Ketua DPRD Pangandaran Ajak Semua Pihak Hadapi “Badai Fiskal” Bersama: “Kita Harus Bangkit, Bukan Saling Menyalahkan”

PANGANDARAN, KilasNusantara.id — 20 Juni 2025, Kondisi keuangan Kabupaten Pangandaran yang kini tengah terpuruk kembali menjadi sorotan publik setelah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menjulukinya sebagai “Kabupaten Sekarat.”

Di tengah badai fiskal yang mengguncang, Ketua DPRD Pangandaran, Asep Noordin, mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemerintahan untuk bersinergi dan mencari solusi bersama.

Usai melaksanakan kegiatan reses di wilayah Kalipucang pada Jumat (20/06/2025), Asep Noordin menegaskan bahwa krisis keuangan ini bukan hanya menjadi tanggung jawab satu pihak, melainkan harus dihadapi secara kolektif sebagai ujian bersama.

“Saya kira cobaan, guncangan dan badai pasti ada. Begitu pun dalam kehidupan rumah tangga. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi dan mencari jalan keluarnya,” ujar Asep.

Dalam analoginya, Asep menggambarkan Pangandaran sebagai kapal besar yang tengah menghadapi badai di tengah lautan. Seluruh penumpang kapal—yakni masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan—memiliki peran krusial untuk menjaga agar kapal tetap stabil.

“Kita pernah berjaya saat Pangandaran dipimpin Pak Jeje dan Pak Adang. Kapal itu melaju dengan semangat meski diterpa gelombang. Hari ini kita kembali menghadapi badai, dan mau tidak mau harus kita hadapi bersama,” ucapnya.

Asep menekankan pentingnya sinergi antar-lembaga dan seluruh elemen masyarakat dalam menangani kondisi fiskal saat ini. Ia juga mengingatkan agar tidak ada pihak yang saling menyalahkan, melainkan bersatu fokus pada pembangunan solusi.

“Permasalahan ini tidak bisa diselesaikan oleh Bupati, Wakil Bupati, atau Ketua DPRD saja. Ini harus menjadi gerakan kolektif seluruh stakeholder,” tegasnya.

Sebagai bentuk langkah konkret, Asep menyarankan Pemerintah Daerah untuk lebih selektif dalam pengeluaran. Belanja daerah, katanya, harus diarahkan pada kegiatan produktif yang memberikan dampak nyata bagi pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat.

“Kita harus hindari belanja yang cost benefit-nya rendah. Kita puasa dulu seperti kepompong. Masa kita kalah sama kepompong yang mampu bermetamorfosis hingga bisa terbang?” tuturnya.

Dengan efisiensi anggaran, efektivitas program, dan sinergi lintas sektor, Asep optimistis Pangandaran bisa keluar dari krisis dan kembali bangkit.

“Insya Allah, jika kita kompak, efisien, dan fokus, Pangandaran tidak hanya akan pulih, tapi juga akan melesat terbang lebih tinggi,” pungkasnya.

Sysfarras