Kota Bekasi – Kilasnusantara.id|
Abah Zakaria Ancam Keras Gelar Aksi Demo Atas Beberapa Kebijakan Konyol Walikota Bekasi Tri Adhianto.
Kemarahan Ketua LSM GMBI Rabu sore itu tak dapat lagi dibentuk, dengan nada berapi-api di kediamannya Rawasemut Bekasi Timur Rabu, 19 Nov 2025, dirinya malah memaki kebijakan konyol Walikota Bekasi beserta jajaran kepala dinasnya yang dinilai sangat dangkal tanpa melakukan kajian mendalam apalagi dilakukan melibatkan pihak yang berkepentingan atau kajian pentahelix dalam menerapkan beberapa kebijakan strategis.
Dalam pendapat Abah seolah Walikota Tri Adhianto benar-benar menganggap orang Bekasi gak ada yang pintar sehingga untuk jabatan eselon 2 hanya orang-orang terdekat dirinya saja yang dipilih, gak pernah diganti atau dirotasi dan dimutasi dengan pejabat eselon dua yang lain. Yang ada malah satu dua kepala dinas malah diberi jabatan rangkap hanya karena kedekatan dengan Walikota secara personal.
“Sebagai contoh, Kadishub Zeno Bachtiar yang saya anggap sering melakukan kesalahan fatal, hanya karena dekat dengan Walikota Tri Adhianto, dia diberi jabatan ganda sebagai Dewan Pengawas PDAM Tirta Patriot, ini kan konyol!” tegas Abah Zakaria penuh emosi.
“Seolah Walikota menganggap gak ada lagi di Kota Bekasi orang yang pintar dan pantas untuk duduk di jabatan Dewan Pengawas. Emang Kadishub tahu apa tentang pengairan?” sergah Abah Zakaria.
Belum lagi dalam anggapan publik, Kadishub Zeno Bachtiar paling sering digugat oleh LSM, Ormas dan mahasiswa tentang kebijakan-kebijakan dinas perhubungan yang sering dianggap blunder, mulai dari kebijakan pemungutan retribusi parkir yang diduga dilakukan penuh penyimpangan, lalu kasus dugaan proyek halte sultan yang berulang kali digugat aksi demo mahasiswa dan LSM, kemudian yang paling parah adalah rencana sosialisasi penutupan pintu keluar masuk penumpang Stasiun Kereta Api Kota Bekasi yang hanya melalui jalur Utara, sedangkan jalur Selatan akan ditutup secara total, sehingga calon penumpang KA jika ingin masuk stasiun, harus mengambil jalan melintasi jalur pintu kereta api yang lebih mengundang risiko kecelakaan sebagai pelintas jalur pintu kereta api.
Kebijakan penutupan pintu keluar masuk jalur Selatan bai penumpang KA di stasiun KA Kota Bekasi ini sedianya untuk mengurangi kemacetan yang kerap terjadi saat pagi dan petang atau jam sibuk. Tapi sayangnya tidak ada kajian mendalam oleh Kadishub secara pentahelix yang melibatkan para stake holder (pemangku kepentingan) seperti pihak KAI, pihak aparat terkait baik Pemkot maupun instansi terkait, para akademisi dari kampus di wilayah kota Bekasi, para perwakilan pengusaha UMKM, tokoh masyarakat baik LSM, Ormas maupun tokoh mahasiswa.
“Kajian macam apa yang dilakukan oleh Kadishub, sehingga besok tanggal 28 November akan melakukan sosialisasi penutupan pintu keluar masuk jalur Selatan di Stasiun KA Kota Bekasi, kok gak mempertimbangkan kepentingan umum, keselamatan para penumpang kereta api. Dan itu semua dilakukan karena satu alasan kemacetan semata?” bahas Abah Zakaria.
“Justru kemacetan jalur di dekat stasiun membuktikan jalan lnya atau hidupnya proses perekenomian di seputar stasiun. Dan kemacetan juga hal yang wajar pada saat jam sibuk, pagi ataupun petang hari. Kenapa harus ditutup dengan risiko besar buat keselamatan penumpang KA dan juga kerugian bagi para pedagang UMKM yang berada di sekitar stasiun. Ini kan bukti, bahwa Kadishub benar-benar tidak melakukan kajian mendalam, seolah kebijakannya itu adalah kebijakan paling cerdas. Lah orang Bekasi lainnya mau dikemanain? Kenapa gak diajak diskusi? Apa mereka dianggap Pemkot sebagai orang tol*l semua, kok berani-beraninya bikin kebijakan tanpa kajian mendalam secara publik?” tuding Abah Zakaria secara pedas.
Wakil ketua GMBI distrik Kota Bekasi, Delvin Chaniago pun menambahkan bahwa apa yang dikatakan oleh Abah Zakaria mencerminkan betapa membingungkannya beberapa kebijakan Walikota Bekasi Tri Adhianto ,seperti kebijakan mutasi dan rotasi jabatan yang bukan berdasarkan kompetensi dan prestasi pejabat di dinas yang tepat dan membutuhkan.
“Bahkan maksud Abah adalah kebijakan konyol dan blunder yang hanya berdasarkan kedekatan dengan figur walikota Bekasi Tri Adhianto. Siapa yang tidak kenal Zeno Bachtiar, yang dianggap oleh publik dan banyak media sebagai orang dekat Tri Adhianto.” imbuh Delvin Chaniago kepada Media Kilasnusantara.id di waktu yang sama.
Permasalahan kebijakan lainnya yang dianggap oleh Ketua GMBI Distrik Kota Bekasi, Abah Zakaria sebagai kesalahan fatal Walikota Bekasi adalah tidak becusnya Tri Adhianto menempatkan pejabat di posisi strategis dan hanya mementingkan nepotisme dan pertimbangan politis, bukan alasan profesionalisme, the right man the right place, atau meritokrasi bukan berdasarkan nepotisme.
“Hal ini lah yang disorot oleh Abah Zakaria sebagai Ketua GMBI, jadi Bang Sidik bisa fokus bahwa sudah sangat parahnya blunder kebijakan yang diambil Dishub untuk penutupan pintu keluar penumpang masuk Stasiun KA yang sosialisasinya 28 November besok, Bang!” Tegas Delvin Chaniago.
(Indri)



















