Sambut Tahun Baru Islam 1446 H Warga Perumahan GPM Pawai Obor Dan Makan Bersama Penuh Khidmat

KAB. BEKASI, KilasNusantara.id — Warga perumahan Griya Pratama Mas (GPM) Kampung Sadang, Desa Cikarageman, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi menyambut tahun baru Islam 1 muharram 1446 Hijriah penuh dengan khidmat, Sabtu (06/0724).

Acara yang digagas Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Baiturrahman bekerjasama dengan pengurus RT menyiapkan 13 tumpeng yang dikirim pengurus RT di Perumahan Griya Pratama Mas.

Sesuai arahan dari pengurus DKM melalui ketua RT, setiap RT dibebankan satu tumpeng bersama ibu-ibu anggota Kerukunan Ibu-Ibu (RUKI), “Kami membuatnya dengan menu populer untuk dibawa ke Masjid,” kata Adha Ninggar selaku ketua RUKI RT.08 usai menyerahkan tumpeng, Sabtu (06/0724) di Kampung Sadang.

Ketua rukun ruki yang menggeluti usaha catering itu menjelaskan kegiatan DKM seperti sekarang sangat positif karena itu dirinya berharap kedepan lebih meriah lagi dengan penataan lebih bagus.

Acaranya sangat positif terutama bagi anak-anak dan adik-adik remaja penerus generasi muda-mudi saya sangat mengapresiasi mendukung sepenuhnya untuk acara ini dan selanjutnya.

Pihak DKM Baiturrahman juga melakukan pawai obor bersama warga di dominasi anak usia sekolah, ratusan peserta pawai membentuk dua barisan mencapai panjang sekitar 200 meter.

“Ikut pawai bersama warga yang lain sambil jalan mendengar lantuman solawat nabi dari mobil panitia,” tegasnya.

Sementara Hasyim Tolabu yang di hadirkan DKM dalam ceramahnya mengatakan tahun baru Hijriah dimulai pada zaman Umar Bin Khattab menjadi Khalifah

“Pada saat itu sahabat umar menentukan penghitungan tahun Hijriah dimulai sejak kepemimpinannya menjadi khalifah,” kata Hasyim tolabu di hadapan jama’ah Masjid baiturrahman.

Selanjutnya itu Hasyim juga menyampaikan cerita salah satu sahabat yang tugasnya mengumandangkan adzan Bilal bin Rabah dengan suara kerasnya Bilal ditunjuk rasulullah sebagai muadzin.

“Jama’ah masjid Baiturrahman yang semakin banyak sebaiknya DKM memilih muadzin yang suaranya nyaring dan keras, karena sebagai seruan shalat, muadzin harus bersuara keras lantang dan enak didengar,” pungkas Hasyim Tolabu.

(M. Yusup)