Kota Bekasi – Sidik Warkop Sentil Pemkot: “Biasanya Dana RW Habis di Konsumsi Rapat, Ini Mau Dijadiin Cuan
> _Kalau biasanya lele cuma berakhir di meja makan sambal terasi, kini Ketua KADIN Kota Bekasi Qadar Ruslan Siregar (QRS) punya mimpi yang lebih ambisius: menjadikan lele dan telur sebagai bahan bakar ekonomi warga RW se-Kota Bekasi. Ide BUMRW yang ia tawarkan bahkan dianggap sebagai tamparan halus bagi pola anggaran seremonial yang selama ini lebih rajin cetak backdrop ketimbang cetak usaha warga._
Siapa bilang ikan lele cuma cocok nongkrong di tenda pecel lele pinggir jalan sambil ditemani lalapan dan suara knalpot racing? Di tangan Ketua KADIN Kota Bekasi, Qadar Ruslan Siregar (QRS), lele justru naik kasta jadi calon “komoditas strategis nasional level RW”. Bahkan kalau idenya jalan, bisa jadi nanti warga Bekasi lebih kenal istilah “supply chain” ketimbang “jalan rusak belum ditambal”.
Ketua KADIN Kota Bekasi, Qadar Ruslan Siregar (QRS), kembali melempar ide yang bikin rapat-rapat OPD mendadak terasa seperti seminar bisnis startup. Kali ini, ia mengusulkan kerja sama strategis berbentuk MOU antara KADIN dan Pemkot Bekasi untuk membangun sistem rantai pasok pangan berbasis RW melalui konsep baru bernama BUMRW (Badan Usaha Milik Rukun Warga).
Menurut QRS, konsep ini bukan sekadar proyek bagi-bagi makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi membangun ekonomi rakyat langsung dari level lingkungan terkecil. Jadi uang negara tidak cuma lewat, foto-foto, lalu hilang bersama spanduk kegiatan.
> Komentar satire Sidik Warkop:
“Saya curiga ide Bang QRS ini terlalu berbahaya buat sebagian pejabat. Karena kalau duit hibah benar-benar muter jadi usaha warga, nanti anggaran seremonial kehilangan habitat alaminya. Selama ini kan yang berkembang pesat justru dunia sambutan, baliho, dan konsumsi rapat. Ekonomi warga mah masih buffering.”
QRS mengatakan, jika MBG hanya berhenti di distribusi makanan, dampaknya pendek. Tapi kalau rantai pasoknya dibangun dari rakyat sendiri, maka uang akan terus berputar di Kota Bekasi.
Ia menjelaskan, nantinya BUMRW bisa menjadi unit usaha kolektif tingkat lingkungan yang dibina langsung oleh KADIN bersama OPD terkait. Mulai dari manajemen usaha, distribusi, pemasaran, hingga tata kelola usaha.
Sebagai tahap awal, QRS mengusulkan pilot project sederhana tapi realistis:
Peternakan lele skala RW
Peternakan telur ayam rumahan
Urban farming
Distribusi bahan pokok MBG
Dapur olahan pangan lokal
Idenya sederhana: warga jangan cuma jadi penonton program negara, tapi ikut jadi pemasok dan pemain utamanya.
> Komentar satire Sidik Warkop:
“Ini pertama kalinya ada gagasan yang bikin lele lebih produktif daripada sebagian program pelatihan pemerintah. Biasanya habis pelatihan cuma dapat sertifikat sama nasi kotak. Kalau ini minimal warga bisa panen telur, bukan panen absensi.”
Menurut QRS, program ini sangat cocok dipadukan dengan Dana Hibah Rp100 juta per RW yang selama ini diberikan Pemkot Bekasi. Ia mempertanyakan kenapa dana itu tidak diarahkan sebagian menjadi modal usaha produktif yang menghasilkan perputaran ekonomi harian.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi cukup membuat sebagian penggemar proposal kegiatan tahunan mendadak berkeringat dingin.
QRS lalu memaparkan simulasi sederhana. Saat ini terdapat sekitar 251 dapur SPPG MBG di Kota Bekasi. Jika satu dapur membutuhkan rata-rata:
3.000 butir telur per hari
3.000 ekor lele per hari
Maka total kebutuhan seluruh dapur mencapai:
753.000 butir telur per hari
753.000 ekor lele per hari
Karena Kota Bekasi memiliki sekitar 1.300 RW, maka tiap RW hanya perlu menyuplai sekitar 579 telur dan 579 lele per hari.
> Komentar satire Sidik Warkop: “Begitu dihitung-hitung, ternyata kebutuhan lele Bekasi lebih terstruktur dibanding sebagian pembangunan drainase. Bahkan lele sekarang punya roadmap ekonomi. Sementara beberapa program lain masih mengandalkan filosofi: ‘yang penting launching dulu’.”
Menurut QR, angka tersebut sangat realistis bila dikelola gotong royong melalui BUMRW. Ia lalu memaparkan simulasi omzetnya.
Dengan asumsi harga telur Rp1.000 per butir, maka satu RW berpotensi menghasilkan sekitar Rp11,5 juta per bulan hanya dari telur.
Sementara dari lele, dengan asumsi harga Rp8.000 per ekor, omzetnya bisa mencapai Rp92 juta lebih per bulan.
Total potensi omzet sederhana per BUMRW bahkan bisa menyentuh angka Rp104 juta per bulan atau lebih dari Rp1,2 miliar per tahun sebelum biaya operasional.
Mendengar angka itu, sebagian warga mungkin mulai sadar bahwa lele ternyata lebih menjanjikan dibanding berharap jadi tenaga ahli dadakan tiap musim proyek.
> Komentar satire Sidik Warkop:
“Selama ini lele cuma digoreng. Sama Bang QRS dinaikkan jadi instrumen ekonomi kerakyatan. Ini kalau berhasil, bisa-bisa nanti musrenbang bukan lagi rebutan paving block, tapi rebutan kolam bioflok.”
QRS menegaskan, jika sistem ini berjalan, maka uang negara tidak berhenti di proposal, tetapi benar-benar hidup menjadi usaha rakyat yang nyata.
Dalam konsep yang sedang disiapkan, KADIN Kota Bekasi juga siap menjadi pembina teknis dan pendamping bisnis setiap BUMRW. Mulai dari pelatihan usaha, penguatan koperasi, akses pasar, digitalisasi usaha, sampai pengelolaan supply chain.
QRS bahkan optimistis model ini bisa menjadi pilot project nasional jika dijalankan konsisten di Kota Bekasi.
Menurutnya, bila satu RW bisa menghidupkan ekonomi warganya sendiri, maka 1.300 RW bergerak bersama akan menjadi mesin ekonomi rakyat yang luar biasa.
> Komentar satire Sidik Warkop:
“Jujur ya, ide ini terlalu masuk akal buat ukuran birokrasi kita. Biasanya yang cepat disetujui itu yang ada panggung, backdrop, sama baliho wajah ukuran 4×6 meter. Kalau program yang bikin rakyat mandiri, seringnya dipelajari dulu… sampai periodenya habis.”
Bagi QRS, inti ekonomi kerakyatan bukan sekadar teori di atas kertas, tetapi bagaimana warga benar-benar merasakan manfaat ekonomi langsung dari program negara.
“MBG, Koperasi Merah Putih, dan BUMRW bisa jadi satu ekosistem besar. Dari rakyat, oleh rakyat, dan kembali untuk rakyat,” pungkasnya.
Dan di tengah kondisi ekonomi yang makin bikin dompet warga tipis seperti kulit lumpia, ide Bang QRS setidaknya memberi satu harapan baru:
bahwa mungkin, untuk pertama kalinya, lele bukan cuma jadi lauk malam… tapi juga jalan keluar ekonomi warga Bekasi. (Indri)


















