Ragam  

Warga Resah, LSM Pemantik Minta Bupati Takalar Lakukan Evaluasi Camat Kepulauan Tanakeke

TAKALAR, KilasNusantara.id – Kasus pengeboman ikan kembali terjadi di perairan Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Sabtu (10/01/2026). Aktivitas ilegal tersebut menimbulkan keresahan di tengah masyarakat nelayan karena merusak ekosistem laut dan mengancam mata pencaharian warga setempat.

Hingga hari ini, belum terlihat adanya tindak lanjut yang tegas dari aparat berwenang terhadap oknum pelaku pengeboman ikan. Kondisi ini memunculkan kekecewaan masyarakat Tanakeke yang menilai penegakan hukum masih lemah dan terkesan dibiarkan berlarut-larut.

Ketua LSM Pemantik, Rahman Suwandi Dg. Guling, menyoroti keras tindakan pengeboman ikan yang dinilainya sangat tidak manusiawi dan bertentangan dengan prinsip perlindungan lingkungan hidup. Ia menegaskan bahwa praktik tersebut bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga merampas hak generasi mendatang atas sumber daya laut yang berkelanjutan.

Menurut Rahman, kerusakan terumbu karang akibat bom ikan berdampak langsung pada menurunnya hasil tangkapan nelayan tradisional. “Yang dirugikan adalah masyarakat kecil. Jika laut rusak, maka nelayan kehilangan sumber penghidupan,” ujarnya.

LSM Pemantik juga meminta Pemerintah Kabupaten Takalar untuk segera mengambil sikap tegas dengan menuntaskan persoalan ini secara menyeluruh. Rahman menilai perlu adanya evaluasi terhadap kinerja Camat Kepulauan Tanakeke yang dianggap belum maksimal dalam menjaga wilayahnya dari praktik perusakan lingkungan.

Selain penegakan hukum, LSM Pemantik mendorong adanya langkah preventif melalui patroli rutin dan edukasi kepada masyarakat agar tidak terlibat dalam aktivitas penangkapan ikan yang merusak. Sinergi antara pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan masyarakat dinilai sangat penting untuk menghentikan praktik ilegal tersebut.

Rahman berharap Bupati Takalar dapat mendengar aspirasi warga dan segera mengambil kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat. “Ini demi kepentingan bersama, khususnya masyarakat Takalar pada umumnya dan warga Kepulauan Tanakeke pada khususnya,” tutupnya.

(JF Daengku)