MEDAN, KilasNusantara.id — Program Studi Pendidikan Masyarakat (Penmas), Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), kembali menegaskan perannya sebagai rujukan kajian pendidikan nonformal nasional melalui kontribusi salah satu dosennya, Anan Sutisna, dalam Seminar Nasional bertema “Reaktualisasi Pendidikan Keluarga Berbasis Pemberdayaan di Era Disrupsi dan Kearifan Lokal: Refleksi Penmas Reborn” yang digelar di Medan, Rabu (23/9/2026).
Dalam paparannya yang berjudul Pendidikan Keluarga di Era Digital dan Penmas Reborn, Anan Sutisna memaparkan hasil kajian komprehensif tentang transformasi peran keluarga dan pendidikan masyarakat di tengah derasnya arus digitalisasi.
Kontribusi Prodi Pendidikan Masyarakat FIP UNJ dalam forum ini memperkuat posisi UNJ sebagai institusi yang aktif merumuskan solusi akademik atas persoalan sosial kontemporer, sekaligus menegaskan komitmen Tridarma Perguruan Tinggi dalam mendorong lahirnya kebijakan dan model pendidikan yang aplikatif bagi masyarakat luas.
Melalui kajian literatur dari berbagai jurnal dan laporan internasional terbaru, UNJ melalui riset dosennya turut menyumbangkan gagasan konseptual berupa Model Family-Community Digital Education, yang dibangun atas lima pilar: literasi digital, pendidikan karakter, pemberdayaan komunitas, etika kecerdasan buatan (AI), dan pembelajaran sepanjang hayat.
Model ini diharapkan menjadi salah satu rujukan bagi pengambil kebijakan, akademisi, maupun praktisi pendidikan masyarakat dalam merancang program yang relevan dengan kebutuhan keluarga dan komunitas di era digital.

Dalam paparannya, Anan Sutisna menjelaskan bahwa transformasi digital global telah mengubah pola komunikasi, pengasuhan, dan interaksi sosial dalam keluarga.
Di satu sisi, teknologi membuka peluang besar berupa akses informasi dan fleksibilitas pembelajaran; di sisi lain, muncul tantangan serius seperti krisis komunikasi keluarga, kecanduan digital, cyberbullying, dan disinformasi.
Ia menegaskan bahwa keluarga kini dituntut menjadi pusat literasi digital sekaligus benteng pendidikan karakter, sementara Pendidikan Masyarakat (Penmas) harus beralih dari paradigma penyuluhan konvensional menuju paradigma “Penmas Reborn” yang adaptif, berbasis teknologi, dan berorientasi pemberdayaan.
Gagasan yang disampaikan Anan Sutisna sejalan dengan semangat program-program pendidikan yang berdampak, yakni program yang tidak hanya berorientasi pada capaian administratif, tetapi benar-benar memberi manfaat nyata dan terukur bagi masyarakat.
Model Family-Community Digital Education yang ditawarkannya dirancang agar keluarga dan komunitas tidak sekadar menjadi objek penyuluhan, melainkan subjek aktif pembelajaran yang mampu mengembangkan kapasitas dirinya secara berkelanjutan melalui kolaborasi lintas sektor keluarga, sekolah, komunitas, pemerintah, dan media digital.

Kajian ini juga selaras dengan sejumlah tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan ke-4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan pembelajaran sepanjang hayat dan literasi digital yang inklusif, serta Tujuan ke-10 (Berkurangnya Kesenjangan) melalui perhatian pada isu kesenjangan digital antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Selain itu, penguatan ketahanan keluarga dan perlindungan anak dari ancaman digital turut mendukung Tujuan ke-16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh).
Berdasarkan hasil kajiannya, Anan Sutisna menyampaikan sejumlah rekomendasi strategis kepada berbagai pemangku kepentingan. Kepada pemerintah, ia merekomendasikan penguatan kebijakan literasi digital keluarga, perluasan akses internet yang inklusif, penyusunan regulasi perlindungan anak di ranah digital, serta pengembangan kurikulum literasi AI. Kepada perguruan tinggi,
Dirinya mendorong pengembangan riset transdisipliner pendidikan digital, penguatan inovasi Penmas berbasis teknologi, serta penyusunan model evaluasi literasi digital masyarakat. Sementara kepada masyarakat, ia mengajak untuk membangun budaya belajar sepanjang hayat, memperkuat komunitas literasi digital, dan menjaga nilai budaya lokal di tengah arus globalisasi digital.
Seminar nasional ini berlangsung di Aula Lantai IV Digital Library UNIMED Medan, dan dihadiri oleh sejumlah pejabat serta akademisi, di antaranya Prof. Dr. Ir. Baharuddin, M.Pd, Rektor UNIMED, Prof. Dr. Zainuddin M, M.Si, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan UNIMED, Fauzi Kurniawan, S.Psi, M.Psi, Ketua Jurusan Pendidikan Masyarakat FIP UNIMED, dan Mahfuzi Irwan, S.Pd, M.Pd, Ketua Panitia Seminar Nasional & Rakernas Himpunan Akademisi dan Program Studi Pendidikan Masyarakat Seluruh Indonesia (HAPPENMASI), serta dihadiri oleh Prof. Dr. Uyu Wahyudin, M.Pd, Ketua Umum HAPPENMASI.
Acara diawali dengan sambutan dari Rektor UNIMED, dilanjutkan dengan pembicara kunci Dr. Beny Bandanadjaja, M.T, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemdiktisaintek RI, serta dilanjutkan pemaparan materi dari para narasumber, termasuk Anan Sutisna dari UNJ, serta diakhiri dengan sesi diskusi dan tanya jawab bersama peserta yang terdiri dari akademisi, praktisi pendidikan masyarakat, dan mahasiswa.
Seminar ini menjadi salah satu upaya konkret untuk merefleksikan kembali arah pendidikan keluarga dan pendidikan masyarakat di tengah percepatan transformasi digital dan Society 5.0. Melalui forum semacam ini, diharapkan lahir sinergi lebih kuat antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun ekosistem pendidikan yang adaptif, inklusif, dan berkarakter sejalan dengan semangat “Penmas Reborn” yang terus digaungkan oleh para akademisi Pendidikan Masyarakat di Indonesia. (Red)



















