Dengan Digelarnya “Kirab Ageng Mendo Suro” Dalam Rangka Ruwat Desa Petahunan Diharapkan Destinasi Tumpak Selo Mampu Mendobrak Daya Tarik Wisatawan

Oplus_131072

Lumajang – Kilas Nusantara.id – Desa Petahunan, Kecamatan Sumbersuko, semakin memantapkan langkahnya sebagai destinasi wisata budaya dan alam unggulan di Kabupaten Lumajang. Melalui rangkaian acara Kirab Ageng Mendo Suro dan Ruwat Desa, masyarakat Petahunan tak hanya melestarikan tradisi leluhur, tetapi juga mempromosikan potensi wisata desa, terutama destinasi alam Tumpak Selo yang kini mulai dikenal luas, Minggu(6/7/2025).

Kirab Ageng Mendo Suro, yang digelar setiap awal bulan Suro dalam penanggalan Jawa, menjadi puncak acara spiritual dan budaya masyarakat desa. Prosesi kirab ini melibatkan ratusan warga, tokoh adat, serta pemuda desa yang mengenakan pakaian adat Jawa. Mereka mengarak hasil bumi, gunungan tumpeng, dan perlengkapan ritual menuju titik ruwatan sebagai bentuk ungkapan syukur serta harapan keselamatan dan kemakmuran.

Usai kirab, digelar Ruwat Desa, sebuah tradisi spiritual yang bertujuan membersihkan desa dari bala dan marabahaya, serta sebagai momen refleksi bersama. Tradisi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin menyaksikan kekayaan budaya lokal yang masih lestari. Apalagi dengan kegiatan grebeg gunungan, ratusan masyarakat berebut hasil bumi yang dibentuk seperti gunung. Penuh kebersamaan berebut tapi tanpa tawuran, saling berbangga dengan perolehannya.

Sementara itu, objek wisata Tumpak Selo yang terletak di desa Petahunan yang sumber airnya berpusat di Pemandian Selokambang, menjadi magnet baru bagi pencinta alam. Dengan panorama pepohonan dan sungai yang airnya mengalir eksotis, serta jalurnya yang menantang, Tumpak Selo perlahan menjelma menjadi ikon alam Petahunan, sebanding dengan destinasi unggulan lain di Lumajang seperti B29 di Argosari atau Tumpak Sewu di Pronojiwo.

Kepala Desa Petahunan, Sumarli menyatakan, bahwa pihaknya berkomitmen menjadikan desa ini sebagai desa wisata berbasis budaya dan alam.

“Kirab dan Ruwat Desa bukan hanya pelestarian tradisi, tapi juga strategi promosi. Tumpak Selo adalah potensi luar biasa yang terus kami kembangkan agar Petahunan bisa sejajar dengan desa wisata lainnya di Lumajang,” ungkapnya.

Oplus_131072

Dikatakan kepala dinas Pariwisata kabupaten Lumajang, Yuli Harismawati, bahwa dukungan dari pemerintah daerah serta partisipasi aktif warga menjadi kunci keberhasilan desa Petahunan dalam mengangkat identitasnya. Dengan semangat gotong royong dan pelestarian budaya, Desa Petahunan siap melangkah sebagai ikon wisata baru yang membanggakan Lumajang seperti desa-desa lain yang mempunyai ikon wisata di desanya.

“Desa Petahunan adalah salah satu desa wisata yang juga mampu mengembangkan suatu kegiatan yang bernilai budaya, jadi hari ini “Kirab Ageng Mendo Suro” ini merupakan salah satu kegiatan yang bermuatan budaya. Memang Petahunan ini tidak hanya tempat wisatanya, tetapi juga kegiatan-kegiatannya sudah mulai mat satu sama lain. Mulai dari tempat wisata, mulai dari ikon desa, yaitu Mendo atau kambing, kemudian makanan khasnya juga ada. Sego pohong, nasi Gule, tadi juga ada kirab Ageng Mendo Suro,” ujar Yuli.

Ditambahkan Yuli, bahwa yang selama ini dinas Pariwisata melakukan pendampingan, desa Petahunan sudah mulai bergerak menjadi sebuah desa yang punya ikon.

“Sesuatu yang menjadi ikon desa, kegiatan ini sepertinya sudah yang kedua kalinya dilaksanakan. Ini menjadi semangat desa mengangkat budaya menjadi salah satu hal yang memang perlu dikembangkan terus sebagai sebuah desa wisata,” terang Yuli, saat diwawancarai awak media.

“Terkait kehadiran bu Yessy Gusman, itu sebenarnya hanya mampir, jadi ternyata dulu dia pernah datang tahun 2023, dan dia kangen sama Lumajang. Dia kangen, kunjungannya sebagai seorang sahabat. Dan kemarin sudah kita ajak ke beberapa tempat wisata termasuk Tumpak Sewu dan Poncosumo, karena dia menginap di Petahunan, sehingga dia pingin tahu Petahunan ini ada event apa. Sehingga tadi melihat ke desa, sekalian dia menikmati kegiatan ini,” pungkasnya.

(Dhr)