Bengkulu, KilasNusantara.id — Rumah Sakit Khusus Jiwa (RSKJ) Soeprapto Bengkulu terus berperan sebagai pusat rehabilitasi bagi individu dengan gangguan kejiwaan yang membutuhkan perawatan intensif tidak hanya memberikan terapi medis,rumah sakit ini juga membantu pasien dalam beradaptasi kembali ke lingkungan sosial mereka agar dapat hidup lebih mandiri.
Sebelum menerima perawatan di RSKJ Soeprapto,pasien harus melewati prosedur yang telah ditetapkan untuk memastikan bahwa mereka benar- benar memerlukan layanan rehabilitasi. Direktur RSKJ Soeprapto,Dr.Jasmen Silitonga,M.,Kes,.Sp.DVE.,FINSDV, menjelaskan bahwa pasien dapat diterima melalui berbagai jalur seperti Dinas Sosial Satpol PP, atau secara mandiri.21/3/25,
Bagi pasien dalam kondisi darurat mereka akan langsung mendapatkan perawatan di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Sementara itu,pasien dengan kondisi tidak mendesak perlu mengikuti prosedur pendaftaran reguler.Selain itu rumah sakit juga memeriksa status kepesertaan BPJS Kesehatan pasien untuk memastikan akses pelayanan yang optimal,
Kami dapat mengecek status kepesertaan BPJS hanya dengan menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK).Jika pasien belum terdaftar,mereka memiliki waktu 3×24 jam untuk mengurus nya,”ujar Nurhayati salah satu petugas administrasi rumah sakit.
Saat ini,RSKJ Soeprapto menangani 100 pasien baru dan 42 pasien yang menjalani kontrol rutin.Dari jumlah tersebut,pasien laki-laki masih mendominasi angka pendaftaran. Beberapa pasien yang kondisinya mulai membaik diberikan kesempatan untuk beraktivitas, seperti bercocok tanam atau berjualan di area rumah sakit sebagai bagian dari proses rehabilitasi sosial mereka.
Namun,tidak sedikit pasien yang mengalami kekambuhan setelah kembali ke lingkungan asal mereka.Dr.Jasmen mengungkapkan bahwa faktor lingkungan menjadi salah satu penyebab utama kekambuhan.Dukungan dari keluarga dan masyarakat sangat berpengaruh dalam proses pemulihan pasien.Sayangnya, stigma negatif terhadap penderita gangguan jiwa masih menjadi tantangan besar yang harus dihadapi,”jelasnya.
Selain itu,rumah sakit juga menghadapi kendala dalam hal keterbatasan tenaga medis.Kami masih membutuhkan lebih banyak dokter spesialis jiwa agar pelayanan terhadap pasien dapat berjalan lebih optimal,”tambah Jasmen.
Pihak rumah sakit mengimbau kepada keluarga pasien untuk lebih aktif dalam mendukung proses pemulihan agar risiko kekambuhan dapat diminimalkan. Dukungan moral dan sosial dari lingkungan sekitar sangat penting untuk memastikan pasien dapat kembali menjalani kehidupan yang lebih baik.
Dengan peningkatan layanan kesehatan mental serta kesadaran masyarakat yang lebih tinggi terhadap pentingnya dukungan bagi penderita gangguan jiwa, diharapkan mereka dapat memperoleh kesempatan yang lebih baik untuk pulih dan hidup secara mandiri.
Pewarta :Johari.S.H.
Editor : Adi.S


















