Daerah  

Dana Desa Gajah Mati Rp105 Juta Disorot Rabat Beton Baru Selesai Dikerjakan Diduga Sudah Retak,Pelapis Tebing Dipertanyakan,

Bengkulu Tengah, // Kilasnusantara.id — Penggunaan Dana Desa di Desa Gajah Mati, Kecamatan Semidang Lagan, Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu,Tahun Anggaran 2026 kini menjadi sorotan tajam publik.Dua kegiatan pembangunan yang menelan anggaran lebih dari Rp105 juta dinilai menyimpan sejumlah hal yang patut dipertanyakan secara serius.

Berdasarkan data yang tercantum pada papan informasi kegiatan, terdapat dua pekerjaan yang berlangsung di Dusun 2,Desa Gajah Mati.Kegiatan pertama berupa Pembangunan Pelapis Tebing dengan volume 30 meter panjang × 1 meter tinggi,bersumber dari Dana Desa senilai Rp,31.801.800. dengan pelaksana kegiatan atas nama Rocky Susyanto.Sementara kegiatan kedua adalah Pembangunan Rabat Beton dengan ukuran 3 meter × 100 meter panjang.dengan total anggaran Rp73.811.000,dan pelaksana kegiatan tercatat atas nama Septiana.

Awak media bersama Tim Investigasi Lembaga BSKN RI Provinsi Bengkulu melakukan peninjauan langsung ke lokasi pada 30 Oktober 2026.Pada hari yang sama,melalui pesan WhatsApp,pelaksana kegiatan pelapis tebing dan pelaksanaan jalan rabat beton,memberikan keterangannya secara singkat.

Pelaksana kegiatan pelapis tebing, Rocky Susyanto,menjelaskan bahwa dengan ukuran lebar bawah 40 sentimeter dan lebar atas 30 sentimeter,biaya upah tukang untuk pekerjaan tersebut berkisar Rp10 juta.Sementara itu,pelaksana kegiatan rabat beton,Septiana,di hari yang sama di kediaman pribadi nya,menyampaikan bahwa total biaya upah pekerja tersebut berkisar sekitar Rp18 juta untuk panjang 100 meter x 3 meter tebal biasanya 0,15 cm.

Keterangan kedua pelaksana tersebut kini dipertanyakan kewajarannya.Untuk pelapis tebing dengan volume fisik sekitar 10,5 meter kubik,upah pekerja sebesar Rp10 juta dinilai tidak sebanding dengan volume yang dibangun terindikasi adanya dugaan penggelembungan anggaran upah pekerja,Sementara untuk rabat beton dengan volume diduga sekitar 45 meter kubik,harga per meter lari yang diduga mencapai Rp738.110 jauh melampaui harga pasar di wilayah Bengkulu Tengah yang berkisar sekitar Rp550.000 per meter lari,Selisih yang cukup signifikan ini tentu memerlukan penjelasan terbuka dari pihak yang berwenang.

Namun yang paling mencolok adalah kondisi fisik bangunan rabat beton tersebut.yang diduga baru selesai dikerjakan dan belum diserahterimakan,terlihat sudah mengalami retak dan patah memanjang di sejumlah titik.patut dipertanyakan,apakah mutu beton yang digunakan tidak sesuai dengan spesifikasi dalam RAB? Diduga pula terjadi lemahnya pemadatan,serta diabaikannya proses perawatan beton atau curing.Seharusnya rabat beton dengan ketebalan 15 sentimeter tidak akan mudah retak dalam waktu singkat jika pengerjaan dan mutu bahannya benar-benar sesuai standar teknis.

Hingga berita ini diturunkan,pihak Pemerintah Desa Gajah Mati, terkhusus Kepala Desa,belum dapat dimintai keterangan secara rinci terkait rincian anggaran, spesifikasi teknis, maupun mutu beton yang digunakan.Demikian pula dengan pihak Kecamatan Semidang Lagan,upaya konfirmasi masih terus dilakukan awak media demi keberimbangan berita, Redaksi senantiasa membuka ruang hak jawab dan hak koreksi bagi semua pihak terkait,sesuai amanat UU Pers Nomor 40 Tahun 1999.

Dengan Adanya dugaan temuan tersebut di atas diharapkan agar kiranya pihak berwenang di Kabupaten Bengkulu Tengah,untuk meninjau langsung ke lapangan, menelusuri kewajaran biaya pada kedua kegiatan tersebut,serta memeriksa mutu rabat beton yang dinilai belum layak.Transparansi dan akuntabilitas penggunaan Dana Desa sangat dinantikan oleh masyarakat luas.

 

Pewarta : Tim Awak Media,

Penulis: Red bengkuluEditor: Kaperwil Provinsi Bengkulu,