AWA BARAT, KilasNusantara.id — Mahkota bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. Bagi Sri Heny Fitriyani, keberhasilan ajang Beauty Muslimah Indonesia (BMI) justru diukur dari sejauh mana para pesertanya mampu terus berkembang, membangun jejaring, dan memberikan kontribusi setelah kompetisi berakhir.
Berangkat dari pemikiran tersebut, Sri Heny Fitriyani membangun ekosistem Beauty Muslimah Indonesia Jawa Barat yang tidak hanya berorientasi pada kompetisi kecantikan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran, pemberdayaan perempuan, serta penguatan solidaritas lintas generasi.
Sejak dipercaya mengemban amanah sebagai Regional Director Beauty Muslimah Indonesia Jawa Barat, Sri Heny berupaya menghadirkan komunitas yang mampu menjaga hubungan antarpeserta, memperkuat peran alumni, sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak.
Baginya, sebuah ajang mungkin hanya berlangsung dalam waktu singkat, tetapi nilai persaudaraan, pengalaman, dan kesempatan untuk bertumbuh harus terus terjaga dalam jangka panjang.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah melibatkan alumni dari berbagai angkatan dalam aktivitas komunitas. Para alumni tidak sekadar menjadi bagian dari perjalanan BMI, tetapi juga memiliki kesempatan untuk berperan aktif dalam mendukung program, berbagi pengalaman, serta mendampingi generasi berikutnya.
Kebersamaan tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan, salah satunya program tahunan IFTAR AKBAR. Kegiatan ini menjadi momentum bagi para Beauties lintas generasi untuk kembali berkumpul, mempererat silaturahmi, dan menjaga rasa memiliki terhadap keluarga besar Beauty Muslimah Indonesia Jawa Barat.
Tidak berhenti pada pertemuan informal, Sri Heny juga membuka ruang bagi alumni untuk terlibat dalam berbagai kegiatan produktif, mulai dari menjadi pembicara seminar dan webinar, berbagi pengalaman, menjadi pembawa acara, mendukung promosi, hingga terlibat dalam kepanitiaan dan pelaksanaan program komunitas.
Bangun Mentoring dan Kemandirian Anggota
Pengembangan kapasitas anggota menjadi salah satu perhatian Sri Heny dalam menjaga keberlanjutan Beauty Muslimah Indonesia Jawa Barat. Salah satu pendekatan yang diterapkan adalah konsep kakak asuh, yakni pendampingan antargenerasi yang memungkinkan peserta berpengalaman berbagi pengetahuan, memberikan motivasi, dan menjadi teman belajar bagi anggota yang lebih muda.
Melalui pola tersebut, proses pembelajaran tidak hanya berlangsung selama masa karantina atau kompetisi, tetapi juga berlanjut dalam kehidupan sehari-hari dan aktivitas komunitas.
Di sisi lain, pembagian peran menjadi bagian penting dalam membangun organisasi yang dinamis. Setiap anggota diberikan ruang untuk berkontribusi sesuai dengan kemampuan, minat, pengalaman, dan kesediaannya.
Keterlibatan tersebut mencakup pengelolaan program, kepanitiaan, pendampingan, komunikasi, hingga pengembangan jejaring. Dengan demikian, setiap anggota memiliki kesempatan untuk mengasah keterampilan sekaligus membangun rasa tanggung jawab dalam komunitas.
Sri Heny juga mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari sponsor, vendor, komunitas, instansi, hingga mitra strategis lainnya. Sinergi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan kegiatan sekaligus membuka peluang baru bagi para anggota untuk mengembangkan potensi diri.
Alumni Jadi Kekuatan Keberlanjutan Komunitas
Salah satu capaian yang menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Sri Heny adalah ketika para anggota mulai mampu mengelola kegiatan secara mandiri.
Kemampuan tim dalam membangun koordinasi, mengambil keputusan, membagi tanggung jawab, serta menyelesaikan program tanpa harus selalu menunggu arahan langsung menjadi bagian dari proses pembelajaran organisasi.
Meski demikian, Sri Heny tetap menjaga komunikasi dan membuka ruang pendampingan bagi para anggota. Baginya, kepemimpinan bukan semata-mata tentang memberikan instruksi, melainkan juga menciptakan lingkungan yang memungkinkan setiap individu berkembang, berinisiatif, dan memiliki kepercayaan diri.
Kemandirian tersebut menjadi salah satu fondasi penting agar komunitas tidak bergantung pada satu figur atau periode kepemimpinan tertentu.
Dengan melibatkan peserta, alumni, dan mitra dalam satu ekosistem yang saling mendukung, Sri Heny berupaya memastikan bahwa Beauty Muslimah Indonesia Jawa Barat memiliki fondasi yang kuat untuk terus berkembang.
Lebih dari sekadar melahirkan pemenang kompetisi, ekosistem ini diharapkan mampu menciptakan perempuan yang memiliki kapasitas, jejaring, pengalaman, serta semangat untuk berkontribusi di tengah masyarakat.
Bagi Sri Heny Fitriyani, mahkota mungkin menjadi simbol pencapaian di atas panggung. Namun, persaudaraan yang terbangun, kemandirian anggota, dan kontribusi yang terus berlanjut menjadi bagian penting dari makna keberhasilan Beauty Muslimah Indonesia Jawa Barat.
Melalui semangat kolaborasi dan pemberdayaan, komunitas ini diharapkan dapat terus tumbuh menjadi keluarga besar yang tidak hanya mempertemukan perempuan dalam sebuah ajang, tetapi juga menyatukan mereka dalam perjalanan panjang untuk belajar, berkarya, dan memberikan manfaat bagi sesama.
Sysfarras




















