Kota Bengkulu, KilasNusantara.id – Jembatan penghubung antara kawasan Teluk Sepang dan Kampung Bahari,Kota Bengkulu,kini menjadi sorotan utama sekaligus perhatian mendalam bagi warga setempat maupun masyarakat umum yang rutin melintas.Sebagai salah satu jalur alternatif yang sangat strategis, jembatan ini menjadi pilihan utama bagi banyak orang untuk mempersingkat waktu tempuh dan menghindari jalur lintas batu bara menuju Pelabuhan Stok Pail yang sering kali padat dan berisiko tinggi.Perlu diketahui,sesungguhnya bangunan utama atau badan jembatan sudah ada dan terlihat kokoh.Namun hingga saat ini bagian ujungnya belum saling terhubung sepenuhnya,Untuk mengatasi hal tersebut dan tetap bisa dimanfaatkan,masyarakat membuat sambungan sementara berupa jembatan kayu.Akibatnya, jalur penghubung ini kini sangat terbatas penggunaannya-hanya mampu dilalui oleh kendaraan roda dua berupa sepeda motor, sedangkan kendaraan roda empat sama sekali tidak bisa melintas. Kondisi yang masih bersifat sementara dan terbatas ini dirasakan sangat memberatkan warga,sehingga mereka dengan tegas menyampaikan harapan agar Pemerintah Kota Bengkulu segera meninjau,merencanakan,dan menyelesaikan pembangunan jembatan ini secara utuh demi kelancaran dan keselamatan seluruh masyarakat.
Perihal ini diungkapkan langsung oleh sejumlah warga baik dari Teluk Sepang maupun Kampung Bahari saat ditemui awak media di lokasi pada Senin,4 Mei 2026, Mereka menjelaskan bahwa keberadaan badan jembatan yang sudah ada seharusnya menjadi kabar baik dan memudahkan akses antar kedua kawasan tersebut. Namun, karena kedua sisinya belum tersambung sepenuhnya, terpaksa dibuatkan sambungan darurat dari susunan kayu agar warga tetap bisa beraktivitas sehari-hari.Konsekuensinya,akses ini hanya cukup kuat dan cukup lebar untuk dilewati sepeda motor saja. Sementara itu,kendaraan roda empat tidak mungkin menyeberang karena sambungan kayu tersebut tidak memadai dan berisiko runtuh.Akibat keterbatasan ini,warga yang memiliki kendaraan lebih besar atau membutuhkan angkutan barang terpaksa harus memutar jauh melalui jalur utama lintas batu bara,yang memakan waktu lebih lama dan memiliki risiko perjalanan lebih tinggi Padahal jembatan ini seharusnya bisa melayani seluruh jenis kendaraan guna menunjang aktivitas berbagai kalangan,mulai dari warga biasa, pedagang,hingga pelajar yang setiap hari menempuh perjalanan pendidikan.
“Sesungguhnya kami bersyukur karena badan jembatannya sudah ada dan terlihat cukup bagus.Tapi sayang sekali,sampai sekarang bagian penghubungnya belum selesai dan belum tersambung sempurna.Akhirnya,demi kebutuhan sehari-hari,kami terpaksa membuat sambungan sementara dari kayu.Karena bentuknya darurat dan bahannya kayu,ya hanya sepeda motor saja yang boleh dan bisa lewat di sini, kendaraan lain tidak mungkin, Padahal seharusnya jembatan ini sudah bisa dinikmati sepenuhnya dan melayani semua kendaraan, Tapi kenyataannya kami masih kesulitan dan terbatas.Kami ingin menegaskan,keadaan sementara seperti ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus.Kami berharap pemerintah benar-benar memperhatikan dan menyelesaikan pembangunannya agar nantinya tersambung dengan baik,kuat,dan bisa dilalui oleh semua jenis kendaraan dengan aman,terutama demi keselamatan anak-anak kami yang setiap hari harus naik motor lewat sini ke sekolah,”ujar salah satu warga dengan nada tegas namun penuh harap.
Kondisi sambungan sementara yang terbuat dari kayu tersebut pun kini mulai menimbulkan kekhawatiran serius,meskipun hanya dilalui oleh sepeda motor.Belum lama ini,tercatat beberapa kejadian di mana pengendara terjatuh saat berada di atas bagian sambungan itu.Insiden ini dialami oleh seorang pelajar yang sedang dalam perjalanan ke sekolah,dan juga menimpa seorang ibu rumah tangga warga setempat, Menurut keterangan warga,risiko bahaya menjadi jauh lebih tinggi saat hujan turun,di mana permukaan kayu menjadi sangat licin.Selain itu,karena strukturnya hanya buatan sementara, sambungan tersebut sering kali terasa goyah dan tidak stabil saat dilewati kendaraan.Padahal bebannya pun hanya berupa sepeda motor yang relatif ringan. Hal ini membuktikan bahwa meskipun badan utamanya sudah ada, bagian penghubungnya yang belum selesai dan masih menggunakan kayu justru menjadi titik rawan yang sangat membahayakan.Siapa pun yang melintas harus selalu dalam keadaan waspada berlebihan dan berisiko mengalami kecelakaan kapan saja.
“Kalau hujan turun,hampir semua orang merasa khawatir dan ragu untuk lewat sini, padahal yang lewat cuma sepeda motor saja.Kayunya jadi sangat licin,kadang papan-papannya juga bergeser atau bahkan ada yang mulai rusak.Sudah banyak kejadian orang terjatuh,baik warga sekitar maupun orang yang kebetulan lewat dari luar daerah.Kami sangat takut jika nanti ada kecelakaan yang lebih parah atau bahkan korban jiwa,baru pemerintah mau bertindak itu sudah terlambat dan tidak seharusnya terjadi.Padahal badan jembatannya sudah ada, tinggal disambungkan dengan baik dan benar.Oleh karena itu,kami menyampaikan permohonan yang tegas kepada pihak terkait:tolong selesaikan apa yang sudah dimulai. Jangan biarkan bagian penghubungnya tetap berupa kayu dan berbahaya seperti ini,”tambah warga lainnya dengan nada serius.
Sejauh ini,warga sudah menanggung kesulitan akibat keterbatasan akses dan risiko keselamatan ini selama bertahun-tahun. Selama masa itu pula, harapan agar jembatan ini diselesaikan dan tersambung sempurna terus disuarakan.Warga menginginkan agar bagian penghubung yang sekarang masih berupa kayu diganti menjadi struktur yang kokoh dan permanen,sehingga nantinya jembatan ini mampu dilalui oleh seluruh jenis kendaraan,tidak hanya sepeda motor.Namun hingga saat ini,belum ada tindakan nyata atau rencana lanjutan yang terlihat dari pihak berwenang untuk menyelesaikan pembangunan tersebut.Warga memandang bahwa fasilitas umum yang pembangunannya sudah dimulai ini adalah tanggung jawab pemerintah untuk diselesaikan dengan baik,agar dapat memberikan manfaat maksimal bagi siapa saja yang membutuhkannya dalam jangka panjang.
Atas dasar kesulitan dan risiko yang terus dirasakan,warga Teluk Sepang dan Kampung Bahari menyampaikan harapan mereka dengan tegas namun tetap sopan kepada Pemerintah Kota Bengkulu.Mereka meminta agar pihak berwenang,melalui instansi terkait segera turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi yang sebenarnya melihat bahwa badan jembatan sudah ada namun belum tersambung,sehingga terpaksa dihubungkan dengan kayu dan hanya bisa dilewati sepeda motor.Setelah itu, pemerintah diharapkan menyusun rencana penanganan yang tepat dan terukur untuk menyelesaikan pembangunannya secara utuh dan permanen.Penyelesaian ini mutlak diperlukan agar jembatan menjadi kokoh,aman,dan mampu melayani seluruh jenis kendaraan demi menjamin keselamatan dan kenyamanan seluruh pengguna jalan,baik saat ini maupun di masa mendatang.
“Kami memohon dengan penuh kesadaran dan ketegasan kepada Pemerintah Kota Bengkulu,agar kiranya berkenan mendengarkan dan merespons keinginan kami.Sudah bertahun-tahun kami menunggu penyelesaiannya,dan selama itu pula kami terpaksa menggunakan sambungan kayu yang darurat dan berbahaya ini. Padahal badan utamanya sudah ada,tinggal disambungkan dengan benar.Mengingat peran dan manfaatnya yang sangat besar bagi kelancaran mobilitas masyarakat, kami sangat berharap ada perhatian serius,anggaran yang memadai,dan langkah nyata dari pemerintah untuk menyelesaikannya.Kami ingin jembatan ini benar-benar tersambung sempurna aman,nyaman,dan layak digunakan oleh siapa saja serta segala jenis kendaraan,sehingga kami tidak lagi merasa cemas atau kesulitan setiap kali harus melintas,”tegas perwakilan warga di akhir pernyataannya.
Hingga berita ini disusun,belum ada tanggapan resmi maupun rencana tindak lanjut yang disampaikan oleh pihak Pemerintah Kota Bengkulu terkait penyelesaian jembatan ini.Warga dan masyarakat umum yang rutin melintas tetap menaruh harapan agar suara dan keluhan merek termasuk fakta bahwa jembatan belum tersambung dan masih mengandalkan sambungan kayu sementara didengar serta ditindaklanjuti dengan sungguh-sungguh.Penyelesaian yang tepat dan berkelanjutan diharapkan dapat segera diwujudkan demi keselamatan dan kesejahteraan bersama.
Pewarta : Kaperwil Bengkulu,


















