Bandung || Kilasnusantara.id – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu sekolah wilayah Kecamatan Paseh, Kabupaten Bandung, mendadak menjadi sorotan publik setelah ditemukan adanya belatung atau ulat buah pada potongan buah naga yang dibagikan kepada siswa.
Menu tersebut diketahui berasal dari Dapur SPPG Cijengkol yang mendistribusikan paket makanan bergizi ke sekolah tersebut.
Temuan itu sontak memicu perhatian para guru dan siswa saat makanan mulai dibagikan. Dalam salah satu ompreng atau wadah makanan, terdapat potongan buah naga yang ditemukan mengandung ulat buah.
Pihak sekolah kemudian langsung melakukan koordinasi dan konfirmasi kepada pengelola dapur MBG untuk meminta penjelasan serta penanganan cepat atas kejadian tersebut.
Kepala SPPG Cijengkol, Noval, membenarkan adanya temuan tersebut. Ia menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pengecekan, ulat buah hanya ditemukan pada satu ompreng dengan jumlah satu ekor dan pihaknya langsung mengambil langkah cepat dengan mengganti menu tersebut menggunakan ompreng baru.
“Memang ada temuan yakni ulat buah pada menu buah naga di satu ompreng dengan jumlah satu. Begitu ada laporan dari pihak sekolah, kami langsung tindak lanjuti dan ompreng tersebut langsung diganti dengan yang baru,” ujar Noval saat memberikan klarifikasi pada awak media Kilasnusantara.id, saat dimintai keterangan, Kamis (07/05/2026).
Ia menegaskan bahwa pihak SPPG Cijengkol tidak menutup-nutupi kejadian tersebut dan justru menjadikan temuan itu sebagai bahan evaluasi agar kualitas distribusi makanan semakin baik ke depannya.
Menurutnya, komunikasi dengan pihak sekolah juga telah dilakukan secara terbuka agar persoalan tidak berkembang menjadi kesalahpahaman di masyarakat.
“Kami sudah berkomunikasi dengan pihak sekolah dan untuk ke depannya tentu akan kami perbaiki lagi, terutama dalam proses sortir bahan makanan dan pengecekan sebelum distribusi,” tambahnya.
Insiden tersebut memunculkan perhatian serius terkait pengawasan kualitas dalam program MBG yang saat ini menjadi perhatian masyarakat. Pasalnya, program makanan bergizi menyasar anak-anak sekolah sehingga aspek higienitas, kualitas bahan pangan, dan proses distribusi menjadi hal yang sangat krusial.
Beberapa pihak menilai kejadian ini harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh bagi seluruh dapur penyedia MBG agar standar kebersihan dan quality control diperketat.
Mulai dari proses pemilihan buah, penyimpanan bahan makanan, hingga pengecekan akhir sebelum makanan dibagikan kepada siswa dinilai harus dilakukan secara berlapis.
Di sisi lain, langkah cepat dari pihak SPPG Cijengkol yang langsung mengganti menu serta memberikan klarifikasi terbuka dinilai mampu meredam keresahan pihak sekolah dan wali murid.
Namun demikian, masyarakat berharap kejadian serupa tidak kembali terulang karena program MBG membawa misi penting dalam mendukung kesehatan dan tumbuh kembang peserta didik.
Peristiwa ini pun menjadi pengingat bahwa keberhasilan program makanan bergizi gratis bukan hanya soal distribusi makanan kepada siswa, tetapi juga menyangkut kepercayaan publik terhadap keamanan dan kualitas pangan yang diberikan kepada anak-anak sekolah.


















