PANGANDARAN, KilasNusantara.id — Semangat kebersamaan dan kebanggaan warga terpancar jelas di Desa Cibenda, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran pada selasa (7/10/2025).
Desa yang dikenal dengan masyarakatnya yang guyub dan berbudaya itu merayakan Milangkala ke-44 dengan meriah.
Dua kegiatan utama, yakni Jalan Santai “Bergerak Bersama Cibenda Mibanda” di pagi hari dan Pagelaran Wayang Golek di malam harinya, menjadi magnet yang menyatukan seluruh lapisan masyarakat.
Jalan Santai Penuh Warna dan Canda
Sejak pagi buta, suasana halaman Kantor Desa Cibenda sudah berubah menjadi lautan manusia. Warga dari berbagai dusun, mengenakan kaus beraneka warna dengan wajah penuh antusias, memenuhi area start jalan santai. Anak-anak tertawa riang, para remaja berswafoto, sementara para orang tua tampak semangat menyusuri rute yang mengelilingi kampung dengan langkah penuh keceriaan.
Dentuman musik ceria dan suara pengeras dari panitia semakin membakar semangat peserta. Bukan hanya ajang olahraga, kegiatan ini menjadi simbol kebersamaan dan kebangkitan masyarakat desa setelah berbagai tantangan pembangunan dan sosial yang dihadapi.
Kepala Desa Cibenda, Dede Rusliana, yang turut melepas peserta jalan santai, mengatakan bahwa kegiatan tersebut menjadi momen untuk mempererat tali persaudaraan antarwarga.
“Milangkala ini bukan sekadar menandai bertambahnya usia desa, tapi juga refleksi atas perjalanan panjang kita dalam membangun dan menjaga kebersamaan. Jalan santai ini menggambarkan semangat warga untuk terus bergerak maju bersama,” ujar Dede dengan senyum bangga.
Setelah menempuh rute sejauh beberapa kilometer, para peserta disambut meriah di garis finis. Panitia pun menyiapkan berbagai doorprize menarik, mulai dari mesin cuci, dispenser, kipas angin, hingga peralatan rumah tangga lainnya. Sorak-sorai menggema setiap kali nama pemenang diumumkan, memperlihatkan betapa suasana penuh tawa dan keakraban begitu terasa di antara warga.
Wayang Golek, Puncak Budaya yang Memikat Ribuan Pasang Mata
Menjelang malam, suasana desa kembali hidup. Lapangan Volly Cibenda disulap menjadi panggung budaya yang megah. Di bawah langit malam yang jernih, ribuan warga kembali berkumpul, duduk rapi di atas tikar dan kursi, untuk menyaksikan Pagelaran Wayang Golek sebagai acara puncak Milangkala ke-44.
Lampu-lampu panggung yang berkilau berpadu dengan gemuruh gamelan menciptakan atmosfer magis. Dalang kondang Ki Rojikin Supriadi Putra tampil memukau dalam pagelaran wayang golek yang bertajuk “Warisan Leluhur, Kekayaan Bangsa.” Dengan gaya khas dan kepiawaiannya, ia memadukan unsur humor, kritik sosial, dan pesan moral dalam setiap adegan, membuat penonton terpikat dari awal hingga akhir.
Alunan sinden yang mendayu, suara gamelan yang berpadu ritmis, serta dialog wayang yang sarat makna menjadikan malam itu tak hanya hiburan, tetapi juga ruang edukasi budaya bagi generasi muda. Anak-anak tampak antusias menyaksikan tokoh-tokoh wayang yang selama ini hanya mereka kenal dari cerita orang tua.
Kepala Desa Cibenda, Dede Rusliana menegaskan bahwa pelestarian budaya tradisional menjadi bagian penting dari pembangunan karakter masyarakat Cibenda.
“Kami ingin Milangkala ini tidak hanya seremonial. Pagelaran wayang golek adalah bentuk penghormatan kita pada leluhur, sekaligus pengingat agar nilai-nilai kejujuran, kebersamaan, dan tanggung jawab tetap hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.
Refleksi dan Harapan: Cibenda yang Maju, Bersatu, dan Berbudaya
Perayaan Milangkala Desa Cibenda ke-44 bukan hanya ajang pesta rakyat, tetapi juga cermin dari kemajuan sosial dan solidaritas warganya. Melalui slogan “Bergerak Bersama Cibenda Mibanda,” pemerintah desa mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus berkolaborasi membangun desa yang mandiri, sejahtera, dan berbudaya.
Dari jalan santai yang menyatukan langkah hingga pagelaran wayang yang menggetarkan jiwa, seluruh rangkaian acara menunjukkan bahwa kemajuan desa tak sekadar diukur dari pembangunan fisik, tetapi dari harmoni sosial dan kuatnya identitas budaya yang dijaga bersama.
Kini, setelah 44 tahun berdiri, Cibenda menatap masa depan dengan keyakinan baru: menjadi desa yang **tumbuh dalam kebersamaan, kuat dalam persaudaraan, dan kokoh dalam budaya.
Sysfarras




















