Ketua DPRD Cimahi Wahyu Widyatmoko Gelar Reses Masa Persidangan I Tahun 2026

KOTA CIMAHI, KilasNusantara.id — Ketua DPRD Kota Cimahi, Wahyu Widyatmoko mengadakan Reses Masa Persidangan I Tahun 2026 yang digelar di Valore Hotel, Jalan Raya Baros, Minggu (26/4/2026).

Dalam Reses yang diikuti sekitar 100 konstituen dari tiga kelurahan, aspirasi tentang lingkungan menjadi sorotan utama warga.

Warga memanfaatkan forum tersebut untuk menyampaikan keluhan sekaligus harapan terkait persoalan sampah yang hingga kini belum tertangani secara tuntas.

Pada kesempatan tersebut, Wahyu Widyatmoko menegaskan bahwa problem sampah bukan semata tanggung jawab pemerintah, melainkan persoalan bersama yang harus diselesaikan dari level paling dasar, rumah tangga.

“Kalau kita membuang sampah, sebenarnya kita sedang memindahkan beban kita ke orang lain. Walaupun kita bayar, kita bersih, tapi ada pihak lain yang harus menanggung dampaknya,” ujar Wahyu Widyatmoko.

Selanjutnya Wahyu Widyatmoko menjelaskan bahwa kapasitas pengelolaan sampah di Kota Cimahi saat ini masih jauh dari ideal.

Total pengolahan yang tersedia baru di bawah 100 ton per hari, sementara produksi sampah harian mencapai sekitar 260 hingga 280 ton.

“Ini selisih yang sangat besar. Artinya, ada ratusan ton sampah yang belum tertangani optimal setiap harinya,” terang Wahyu Widyatmoko.

Menurut Wahyu Widyatmoko kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak lingkungan serius jika tidak segera diatasi, termasuk tekanan terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) seperti Sarimukti.

Namun demikian, ia menilai solusi tidak bisa hanya bergantung pada penambahan fasilitas atau teknologi. Perubahan perilaku masyarakat dinilai menjadi kunci utama.

“Kalau kita disiplin dari rumah, mulai dari memilah sampah organik dan anorganik, sebenarnya masalah ini bisa jauh berkurang. Tidak berat, hanya perlu kebiasaan,” katanya.

Wahyu juga mengusulkan konsep pengelolaan sampah berbasis lingkungan terkecil, yakni RT. Dalam skema tersebut, sampah organik rumah tangga dapat dikumpulkan dan diolah menjadi kompos atau pupuk cair secara mandiri.

“Kalau di setiap RT sudah ada sistem sederhana untuk mengelola sampah organik, beban kota bisa berkurang signifikan,” jelasnya.

Meski berbagai program pengelolaan sampah telah diluncurkan pemerintah kota, Wahyu mengakui implementasinya belum maksimal.

Ia menilai, pendekatan berbasis kesadaran kolektif masyarakat harus diperkuat agar program yang ada bisa berjalan efektif.

Dalam reses tersebut, selain persoalan sampah, warga juga menyampaikan berbagai aspirasi lain, mulai dari infrastruktur jalan hingga program sosial.

Seluruh masukan itu, kata Wahyu, akan dirangkum dan dibahas bersama anggota dewan lainnya untuk kemudian diajukan kepada pemerintah daerah.

Menutup pertemuan, Wahyu mengajak masyarakat untuk mulai mengambil peran aktif dalam mengatasi persoalan sampah.

“Mulai saja dari hal kecil, dilakukan bersama-sama, saya yakin Cimahi bisa dan terbiasa,” pungkas Ketua DPRD Cimahi, Wahyu Widyatmoko.

(Dedi Irawan)