PANGANDARAN, KilasNusantara.id — Proyek Strategis Nasional (PSN) Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Desa Karangjaladri, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, hingga kini belum jelas kapan dapat dioperasikan. Meski sebagian besar bangunan telah berdiri dan secara fisik diklaim mencapai sekitar 99 persen, proses serah terima proyek senilai Rp10,6 miliar tersebut belum juga dilakukan.
Kondisi ini membuat fasilitas yang sedianya menjadi penunjang aktivitas dan kesejahteraan nelayan tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
Proyek KNMP tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2025 dengan nilai sekitar Rp10,6 miliar. Pekerjaan sebelumnya ditargetkan selesai pada 31 Desember 2025.
Namun, hingga Rabu (16/9/2026), atau sekitar delapan bulan setelah batas waktu penyelesaian, kepastian mengenai serah terima dan pengoperasian fasilitas tersebut masih belum diperoleh Pemerintah Desa Karangjaladri.
Fisik Hampir Rampung, Serah Terima Belum Jelas
Berdasarkan kondisi di lapangan, sejumlah bangunan dan fasilitas KNMP telah berdiri. Secara kasatmata, kawasan tersebut tampak siap digunakan untuk mendukung aktivitas masyarakat nelayan.
Namun, belum adanya proses Berita Acara Serah Terima (BAST) menjadi salah satu kendala pengoperasian fasilitas tersebut.
Kepala Desa Karangjaladri, Eris Darmawan, mengatakan hingga saat ini pihak pemerintah desa belum menerima serah terima pembangunan KNMP.
Menurutnya, belum ada kepastian koordinasi dari pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) maupun Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) terkait mekanisme serah terima dan pengelolaan fasilitas.
“Hingga saat ini kami belum menerima atau serah terima pembangunan KNMP. Hingga detik ini belum ada koordinasi dari pihak KKP maupun PPK terkait serah terima dan pengelolaan,” ujar Eris, Rabu (16/9/2026).
Pabrik Es Belum Siap Digunakan
Eris menyebut progres pembangunan secara umum telah mencapai sekitar 99 persen. Namun, menurutnya, masih terdapat sejumlah pekerjaan dan fasilitas yang perlu dipastikan terlebih dahulu sebelum proyek benar-benar dinyatakan siap digunakan.
Salah satunya adalah fasilitas pabrik es, yang dinilai membutuhkan kesiapan mesin dan sistem pendukung agar dapat berfungsi sesuai peruntukannya.
“Untuk pabrik es harus disiapkan mesin karena harus mengambil air laut langsung. Jadi harus ada pekerjaan tambahan,” ungkapnya.
Pemerintah desa sebelumnya juga telah menyampaikan sejumlah usulan pekerjaan tambahan dengan harapan seluruh fasilitas yang dibangun tidak hanya selesai secara fisik, tetapi benar-benar dapat digunakan dan memberikan manfaat bagi masyarakat nelayan.
Pemdes Tak Ingin Menanggung Beban Pemeliharaan
Belum tuntasnya sejumlah fasilitas membuat Pemerintah Desa Karangjaladri memilih bersikap hati-hati dalam proses serah terima.
Pemdes tidak ingin terburu-buru menandatangani BAST apabila masih terdapat pekerjaan yang belum diselesaikan. Sebab, setelah fasilitas diterima, terdapat konsekuensi pengelolaan, pemeliharaan, maupun potensi perbaikan yang dapat menjadi beban pihak pengelola.
Eris menegaskan, pihaknya ingin memastikan seluruh fasilitas dalam kondisi benar-benar siap digunakan sebelum serah terima dilakukan.
“Kita juga tidak mau ketika sudah diterima kemudian masih ada kekurangan dan pihak kami yang terbebani. Jadi memang harus 100 persen bisa digunakan,” tegasnya.
Ia juga meminta agar dokumen BAST nantinya dipelajari secara cermat sebelum ditandatangani.
“Tentu kita harus pelajari dulu berita acaranya. Ketika memang belum ada yang selesai, ya bereskan dulu. Kalau setelah clear, beres 100 persen, mungkin kami akan menandatangani,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, Pemerintah Desa Karangjaladri kini masih menunggu kejelasan dari pihak terkait mengenai penyelesaian pekerjaan, mekanisme serah terima, hingga pola pengelolaan Kampung Nelayan Merah Putih Pangandaran.
Pemdes berharap seluruh fasilitas KNMP dapat diselesaikan secara menyeluruh sebelum diserahkan, sehingga keberadaan proyek tersebut benar-benar dapat dimanfaatkan masyarakat dan tidak justru menimbulkan persoalan baru dalam pengelolaannya.
Sysfarras




















