Kolaborasi Poltekkes Kemenkes Jakarta III dan Kelurahan Cakung Barat Gelar Skrining Kesehatan Terpadu, Deteksi Dini Risiko Stroke Sasar Ratusan Warga

Jakarta Media kilasNusantara.id

Sebagai wujud nyata kepedulian terhadap kualitas kesehatan masyarakat, Poltekkes Kemenkes Jakarta III sukses menggelar program pemberdayaan masyarakat berupa skrining kesehatan terpadu dan deteksi dini risiko stroke di Kelurahan Cakung Barat. Kegiatan yang menargetkan 150 sasaran warga ini disambut antusias dan mendapat dukungan penuh dari berbagai pemangku kepentingan setempat.

Acara pembukaan dihadiri langsung oleh Direktur Poltekkes Kemenkes Jakarta III yang pada kesempatan ini diwakili oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Kapuslitmas), Dr. Roikhatul Jannah, SST, Ft., MPH. Turut hadir untuk mengawal kelancaran program kesehatan ini adalah Lurah Cakung Barat serta Kepala Puskesmas Pembantu (Kapustu) Cakung Barat. Sinergi lintas sektoral ini menunjukkan komitmen bersama dalam meningkatkan kesejahteraan warga, khususnya bagi kelompok rentan.

Dalam pelaksanaannya, tim memberikan pelayanan kesehatan yang komprehensif, mencakup pemeriksaan ibu hamil, pemantauan tumbuh kembang dan gizi balita, hingga penilaian risiko kardiovaskular serta deteksi dini (skrining) NeuroRisk stroke bagi kelompok usia dewasa dan lanjut usia (lansia).

Berdasarkan rekapitulasi data hasil pemeriksaan di lapangan, kegiatan ini berhasil memberikan layanan kepada 119 warga. Secara rincian, skrining deteksi dini stroke diikuti oleh 98 peserta dewasa dan lansia, pemeriksaan tumbuh kembang balita menjangkau 19 anak, serta pemeriksaan kehamilan bagi 2 ibu hamil.

Khusus untuk hasil skrining risiko stroke (NeuroRisk) terhadap 98 warga—yang mayoritas diikuti oleh kaum perempuan sebanyak 88 peserta—didapatkan temuan yang menjadi perhatian bersama. Hasil deteksi menunjukkan terdapat 14 warga berada pada kategori risiko “Tinggi”, 45 warga pada kategori risiko “Sedang”, dan 39 warga lainnya memiliki risiko “Rendah”.

Deteksi dini ini menjadi langkah krusial dalam pencegahan penyakit tidak menular. Bagi warga yang terdeteksi berada pada kategori risiko sedang dan tinggi, tim kesehatan langsung memberikan edukasi intensif terkait modifikasi gaya hidup, perbaikan pola makan (diet), serta arahan tegas untuk melakukan pemantauan kesehatan lanjutan secara berkala ke Puskesmas terdekat dalam 1-3 bulan ke depan.

Kegiatan pengabdian masyarakat di Cakung Barat ini diharapkan bukan sekadar layanan kesehatan satu waktu, melainkan menjadi pemicu lahirnya kesadaran kolektif warga akan pentingnya menjaga pola hidup sehat. Ke depannya, sinergi antara institusi pendidikan tinggi dan pemerintah kewilayahan ini diharapkan terus berlanjut demi terwujudnya masyarakat yang sehat, produktif, dan tanggap terhadap risiko penyakit.

Sutarman