Kota Bengkulu, KilasNusantara.id – Program pembangunan tangki septik skala individual perkotaan yang dilaksanakan,melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) di Kelurahan Teluk Sepang,kini menjadi sorotan tajam publik.Program yang dibiayai dengan anggaran mencapai miliaran rupiah dan bertujuan meningkatkan sanitasi serta menekan angka kemiskinan,diduga mengalami kegagalan perencanaan yang parah dan terjadi berulang kali dalam kurun waktu beberapa tahun.Fakta di lapangan menunjukkan,banyak fasilitas yang sudah dibangun ternyata tidak dapat dimanfaatkan oleh warga semata-mata karena tidak lengkap,meskipun program serupa telah dijalankan di wilayah yang sama berturut-turut.
Indikasi kegagalan perencanaan ini terlihat sangat jelas dari pola pelaksanaannya.Berdasarkan pantauan dan keterangan warga,pembangunan yang dilakukan selama ini hanya sebatas membuat wadah penampung limbah atau tangkinya saja.Pihak pelaksana tidak menyertakan pembangunan bilik,dinding,atau ruangan layak pakai sebagai tempat penggunaan. Akibatnya,tangki septik tersebut menjadi benda mati yang tidak berguna,karena secara fungsi tidak bisa dipakai untuk kebutuhan sanitasi dasar.Kesalahan mendasar inilah yang diduga menjadi bukti nyata bahwa program ini tidak dirancang dengan matang,tidak melihat kebutuhan riil di lapangan,dan tidak memikirkan kelayakan fungsi fasilitas yang dibangun.
Yang semakin memperkuat dugaan kegagalan perencanaan adalah fakta bahwa kesalahan yang sama terus berulang tanpa ada perbaikan sama sekali.Rekam jejak menunjukkan pola yang persis sama terjadi pada tiga periode waktu berbeda.Pertama pada tahun 2020,program dilaksanakan namun hasilnya banyak yang tidak terpakai karena alasan yang sama.Kemudian pada tahun 2024,program yang sama kembali digulirkan di wilayah yang sama,namun kembali mengalami nasib serupa dan diduga gagal karena perencanaan yang tidak berubah.Dan puncaknya, pada tahun 2025,program kembali diluncurkan di lokasi yang sama,namun lagi-lagi ditemukan banyak tangki septik yang belum bisa digunakan warga karena tidak memiliki bilik atau dinding penunjang.
Menurut penuturan salah satu warga saat di wawancara Tim awak media,pada hari Senin,4/5/26 di kediaman nya menjelaskan,yang telah merasakan langsung dampak dari program tersebut selama bertahun-tahun,diduga kegagalan dalam perencanaan ini sangat terasa dan merugikan.“Saya sendiri buktinya.Tahun 2020 saya dapat bantuan program pembangunan tangki septik,tapi sekarang sudah rusak dan tidak terpakai karena memang dari awal tidak tidak ada dinding nya.Terus tahun 2024,anak saya yang rumahnya di sebelah saya juga dapat bantuan yang sama.Tapi sekali lagi,tangkinya ada, tapi tidak ada dindingnya, jadi tidak bisa dipakai sampai kami mengeluarkan biaya sendiri untuk menambah bangunan kebelakang buat dapur biar bisa di gunakan, Dan yang paling bikin heran,tahun 2025 ini pun masih sama saja saya juga dapat bantuan namun juga sama jika tidak saya tambah kebelakang dan di masukan kedalam rumah juga tidak bisa di manfaatkan.Di lingkungan kami masih ada beberapa rumah yang sudah dibangunkan tangki,tapi sampai sekarang belum terpakai juga,alasannya tetap sama: tidak ada biliknya,Kami hanya terima apa adanya,tapi manfaatnya nihil,”harapan kami warga miskin ini bantuan dari pemerintah ini dapat di manfaatkan untuk jangka panjang dan lebih layak ada dinding nya mudah mudahan kedepannya dapat bantuan dinding nya,ujar warga tersebut.
Berulangnya diduga kesalahan teknis yang sangat mendasar dan mudah diprediksi ini menegaskan dugaan publik bahwa program ini mengalami kegagalan dalam tahap perencanaan secara menyeluruh.Padahal,masalah ketiadaan bilik atau dinding sudah terjadi diduga sejak tahun 2020 dan semestinya menjadi bahan evaluasi utama serta perbaikan pada program-program berikutnya di tahun 2024 maupun 2025.Namun kenyataannya,tidak ada perubahan signifikan, sehingga kesalahan yang sama terus diulang dengan menggunakan anggaran negara yang tidak sedikit.
Situasi ini pun memunculkan dugaan kuat bahwa kegagalan perencanaan tersebut berpotensi menjadi pemborosan uang negara yang sangat besar.Anggaran miliaran rupiah yang seharusnya digunakan untuk membangun fasilitas yang benar-benar berguna dan layak,justru habis untuk pembangunan yang parsial,tidak berfungsi, dan harus diulang berkali-kali.Di mata publik, hal ini sangat disayangkan karena tujuan awalnya sangat mulia,yaitu mengatasi kebiasaan buang air besar sembarangan dan meningkatkan kesehatan lingkungan,namun kandas di tengah jalan karena lemahnya perencanaan.
Sorotan publik kini kian menguat dan menuntut pertanggungjawaban yang jelas.mempertanyakan bagaimana proses perencanaan yang dilakukan oleh instansi terkait,mengapa diduga kesalahan yang sama dibiarkan terjadi berulang kali,serta ke mana pertanggungjawaban atas anggaran yang sudah dikeluarkan selama ini. Hingga berita ini diterbitkan,belum ada tanggapan resmi maupun penjelasan rinci dari pihak Dinas PUPR Kota Bengkulu,selaku pelaksana program terkait dugaan kegagalan perencanaan dan pemborosan anggaran tersebut.
Publik berharap agar pihak berwenang segera menindaklanjuti sorotan yang muncul,melakukan pemeriksaan mendalam, serta memastikan bahwa kesalahan yang sama tidak terulang lagi di masa mendatang.Penggunaan uang negara diharapkan benar-benar direncanakan dengan matang,tepat sasaran,dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Pewarta : Kaperwil Bengkulu,


















