JAWA BARAT, Kilas Nusantara – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim secara resmi membuka Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) Kelas Muda Angkatan pertama, bertempat di Sekretariat PWI Jawa Barat, Jl. Wartawan, Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat, selasa (6/2/2024)
Hadir juga pada acara pembukaan SJI Kelas Muda Angkatan I Pj. Gubernur Jawa Barat Bey Triadi Machmudin, Ketua Umum PWI Pusat Hendry Ch. Bangun, Ketua PWI jawa Barat Hilman Hidayat serta tamu undangan.
Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) Kelas Muda Angkatan pertama diikuti 30 jurnalis dari perwakilan wilayah daerah jabar serta berbagai media yang akan diadakan selama Lima (5) hari yang dimulai hari selasa tanggal 6 Februari sampai tanggal 10 Februari 2024.
Dalam kata sambutannya, Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim mengatakan bahwa dunia jurnalisme saat ini tengah bersaing dengan Artificial Intelegence (AI) atau kecerdasan buatan.
“Perkembangan teknologi yang ada saat ini bukan alasan untuk menurunkan kualitas jurnalisme di Indonesia,” kata Nadiem Anwar Makarim.

Dalam momen itu, Nadiem Anwar Makarim pun berpesan agar para wartawan tetap menjaga kualitas jurnalisme di tengah disrupsi informasi.
“Tentunya teknologi telah merubah segala aspek daripada sektor jurnalisme. Disruptif kondisinya. Tapi itu bukan alasan untuk menurunkan kualitas jurnalisme. Kita harus berkompetisi dengan AI sekarang. Kita harus berintegritas, berpikiran kritis, kita harus menulis dengan hati nurani, karena itu yang tidak dimiliki oleh mesin kecerdasan buatan,” kata Nadiem Anwar Makarim.
Nadiem Anwar Makarim memaparkan bahwa dirinya mengaku sempat dibuat pusing oleh beberapa publikasi berita online atau daring yang mengasumsikan bahwa dirinya sebagai pembaca yang sedang mengikuti isu tertentu.
Di sisi lain, ia baru membaca isu yang tengah mencuat. Menurut Nadiem, publikasi media The Economist yang menurutnya lebih enak untuk dibaca.

“Itu setiap orang dijelaskan, bahkan orang tekenal pun dijelaskan siapa dia. Seolah-olah pembaca tidak mengetahui hal itu. Itu adalah standar jurnalisme yang perlu diterapkan, sehingga masyarakat pun naik tingkat literasinya. Sekarang misinformasi, disinformasi menjadi sangat rentan di masyarakat, karena tidak ada standar penulisan yang komprehensif dan integritas yang kuat,” tutup Mendikbudristek dalam sambutannya.
Sementara itu, Ketua PWI Pusat, Hendri Ch Bangun menyebut SJI merupakan lanjutan dari program yang sebelumnya sudah digagas tahun 2016 lalu. Menurutnya, SJI merupakan program peningkatan kompetensi dan wawasan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Apalagi menurutnya, SJI adalah ikon dari PWI yang sudah berjalan sejak lama.
“Pada saat itu, pertama kali diadakan di Palembang tahun 2010 dengan pemberi kuliah pertama Presiden SBY. Untuk kali ini, multitasking jurnalisme menjadi andalan. Termasuk berpikir kritis, berwawasan kebangsaan, dan menjaga integritas,” ungkap Hendri.(***)


















