Turunkan Stunting Pemkab Indramayu Gelar Evaluasi Intervensi Spesifik dan Sensitif Triwulan II

INDRAMAYU, KilasNusantara.id, Kamis (9/7/2026). – Pemerintah Kabupaten Indramayu terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat upaya pencegahan dan percepatan penurunan angka stunting di daerah, khususnya di wilayah Kabupaten Indramayu.

Melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bapperida) Kabupaten Indramayu, Pemkab Indramayu menyelenggarakan rapat Evaluasi Data Intervensi Spesifik dan Sensitif Bidang Kesehatan Triwulan II Tahun 2026 pada Kamis (9/7/2026).

Kegiatan yang dilaksanakan melalui zoom meeting ini merupakan tindak lanjut dari arahan Kepala Bappeda Provinsi Jawa Barat guna menyelaraskan komitmen bersama Tim Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) di seluruh tingkatan daerah.

Rapat dibuka oleh Plt. Kepala Bapperida Kabupaten Indramayu yang diwakili oleh Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia (PPM), Suhartati.

Dalam pembahasan evaluasi yang dipaparkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, ditekankan bahwa penanganan stunting memerlukan sinergi yang kuat dari berbagai stakeholder.

Penurunan angka stunting tidak hanya bergantung pada intervensi spesifik kesehatan saja, melainkan juga harus ditopang oleh intervensi sensitif pada sektor non-kesehatan.

Berdasarkan data laporan Triwulan II 2026, Dinas Kesehatan mengidentifikasi beberapa capaian indikator utama beserta target di lapangan.

Pada kelompok remaja putri dan ibu hamil, prioritas diarahkan pada pelaksanaan skrining anemia dengan target capaian sebesar 77%.

Selain itu, perhatian besar ditekankan pada tingkat kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD), di mana target untuk remaja putri dipatok sebesar 67% dan untuk ibu hamil sebesar 70%.

Upaya memastikan nutrisi dan kesehatan ibu hamil juga terus digenjot demi mencegah lahirnya bayi stunting.

Tati mengatakan, Pemkab Indramayu menargetkan cakupan pemeriksaan kehamilan minimal 6 kali (ANC 6x) dapat menyentuh angka 82%.

Sementara itu, tambahnya, pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil yang mengalami Kurang Energi Kronis (KEK) atau berisiko KEK ditargetkan mencapai 85%.

Di sektor pemantauan berkala anak, peningkatan partisipasi orang tua dalam menimbang dan mengukur balita (D/S) di Posyandu ditargetkan sebesar 85%.

“Pemkab Indramayu juga memprioritaskan pemberian ASI eksklusif secara penuh bagi bayi di bawah usia 6 bulan dengan target keberhasilan mencapai 76 persen,” katanya.

Rapat ini juga merumuskan berbagai upaya mitigasi nyata untuk mengatasi tantangan operasional di lapangan.

Beberapa langkah konkret yang disepakati meliputi pengadaan alat cek Hb (Hb-meter) yang terstandar, digitalisasi pelaporan gizi terintegrasi melalui aplikasi Satu Sehat dan Sigizi Terpadu, hingga penggerakan program Aksi Bergizi berupa gerakan minum TTD bersama di sekolah-sekolah.

Di samping itu, jelas Tati, program penunjang sensitif juga ikut diakselerasi melalui penyediaan Unit Pengolahan Setempat (Septic Tank), pembangunan jaringan perpipaan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), serta program budidaya untuk meningkatkan ketersediaan konsumsi ikan keluarga.

Agenda penting ini dihadiri secara virtual oleh seluruh unsur TPPS Kabupaten Indramayu, mulai dari perwakilan Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Sosial, DPMD, DP3AKB, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Dinas Perikanan dan Kelautan, Kementerian Agama, Bagian Kesra, hingga TP PKK Kabupaten.

Jajaran TPPS tingkat kecamatan, termasuk para Camat, Kepala UPTD Puskesmas, dan Kepala UPTD PLKB se-Kabupaten Indramayu, turut hadir untuk memastikan intervensi berjalan tepat sasaran langsung di tingkat desa.

Melalui evaluasi berkala ini, Pemkab Indramayu optimis dapat mewujudkan visi daerah yang bersih, sehat, dan bebas stunting demi masa depan generasi penerus yang lebih baik.