Jeje Wiradinata Turun Langsung Dampingi Korban Kebakaran Legok Jawa, Galang Gotong Royong Bangun Rumah

PANGANDARAN, KilasNusantara.id — Musibah kebakaran yang menghanguskan sejumlah rumah warga di Dusun Legok Jawa, Kabupaten Pangandaran, tak hanya menyisakan kerugian materi. Di tengah kondisi tersebut, solidaritas mulai bergerak untuk memastikan para korban bisa kembali memiliki tempat tinggal.

Tokoh masyarakat Pangandaran, yang merupakan Ketua HNSI Kabupaten Pangandaran sekaligus sebagai mantan Bupati Pangandaran, Jeje Wiradinata, turun langsung meninjau lokasi kebakaran sekaligus menyerahkan bantuan bagi warga terdampak. Tak berhenti pada bantuan logistik, Jeje juga menginisiasi gerakan gotong royong untuk mempercepat pembangunan kembali rumah warga yang ludes terbakar.

Dalam kunjungannya, Jeje menyerahkan sejumlah kebutuhan pokok, seperti beras dan mi instan, serta bantuan dana tunai untuk membantu memenuhi kebutuhan mendesak para korban.

Rumah-rumah yang terdampak kebakaran tersebut diketahui merupakan hunian bantuan bagi korban tsunami tahun 2006. Jeje memiliki keterikatan historis dengan pembangunan rumah tersebut karena saat itu dirinya menjabat sebagai Ketua DPRD Kabupaten Pangandaran dan turut mengawal proses pembangunannya.

Jeje Galang Solidaritas Untuk Bangun Kembali Rumah Korban

Jeje menyadari bantuan pemerintah daerah sekitar Rp20 juta untuk setiap unit rumah belum tentu mampu menutup seluruh kebutuhan pembangunan.

Karena itu, ia memilih mendorong pola gotong royong dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari masyarakat, anggota DPRD, organisasi sosial hingga pihak-pihak yang memiliki kepedulian terhadap kondisi korban.

Kebutuhan material pembangunan seperti semen, bata, kayu hingga genteng diupayakan dipenuhi melalui sumbangan dan iuran bersama.

“Tentu saya berpikir bagaimana agar pembangunan ini bisa berlangsung cepat. Bantuan pemerintah daerah sekitar Rp20 juta bisa saja cukup atau tidak. Karena itu, kami mengambil langkah kepedulian bersama. Kebutuhan material seperti semen, bata, kayu, dan genteng akan kami tanggung bersama dari swadaya pribadi, iuran anggota dewan fraksi, bantuan Bu Ida, hingga dana sosial HNSI,” ujar Jeje saat berada di lokasi kebakaran.

Menurut Jeje, kondisi korban membutuhkan penanganan cepat. Jangan sampai warga yang rumahnya terbakar harus terlalu lama berada dalam kondisi tanpa hunian yang layak.

Karena itu, menurutnya, seluruh bantuan yang datang perlu diarahkan agar tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga mampu mempercepat proses pemulihan kehidupan para korban.

Mayoritas Korban Merupakan Keluarga Nelayan

Solidaritas juga datang dari Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI). Jeje mengatakan, keterlibatan organisasi tersebut berkaitan dengan latar belakang sebagian besar korban kebakaran yang merupakan keluarga nelayan.

Dana sosial HNSI sekitar Rp20 juta hingga Rp25 juta turut diarahkan untuk membantu proses pembangunan kembali rumah warga yang terdampak.

Bantuan tersebut diharapkan dapat melengkapi dukungan pemerintah sehingga kebutuhan pembangunan rumah dapat segera terpenuhi.

Jeje menilai musibah yang dialami warga Legok Jawa menjadi momentum untuk memperkuat kembali semangat gotong royong di tengah masyarakat.

Ia juga mengajak para pejabat, anggota dewan, organisasi sosial dan elemen masyarakat lainnya untuk tidak ragu turun tangan ketika warga mengalami musibah.

Menurutnya, penanganan bencana tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Kolaborasi berbagai pihak menjadi penting agar pemulihan dapat dilakukan lebih cepat.

“Yang paling penting sekarang bagaimana rumah warga ini bisa segera dibangun kembali. Jangan sampai korban terlalu lama menunggu. Kalau semua bergerak bersama, insyaallah beban masyarakat akan menjadi lebih ringan,” kata Jeje.

Gerakan solidaritas tersebut menjadi harapan baru bagi para korban kebakaran di Legok Jawa. Setelah kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran, warga kini menunggu proses pembangunan kembali rumah mereka agar dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.

Bagi Jeje, bantuan dalam situasi bencana bukan sekadar soal materi, tetapi juga tentang memastikan masyarakat yang sedang tertimpa musibah tidak merasa berjalan sendirian.

Sysfarras