Dialog Budaya, Anggota DPRD Depok Ikravani Hilman : Kebudayaan Hanya Sebagai Aksesoris

DEPOK, Kilas Nusantara — Di Musrenbang Kelurahan Sukamaju Baru, Anggota DPRD Kota Depok Ikravani Hilman, menyempatkan waktu berdialog dengan puluhan media di Kantor Kelurahan Sukamaju Baru, Daerah pemilihan (Dapil) Cilodong Tapos, jumat (19/1/2024).

Pemerintah Kota Depok melalui Dinas pemuda Olah raga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporyata) mengatakan budaya dan pariwisata yang berkarakter ialah yang mempunyai ciri khas, hal tersebut tertuang pada UU.No.5/2017 tentang pemajuan kebudayaan.

“Dan untuk mewujudkan kebudayaan dan pariwisata harus didukung dengan keberadaan sektor wisata dan cagar budaya yang dilengkapi dengan berbagai sarana prasarana pendukung,” ungkap Kadisporyata dikutip (Antara Megapolitan).

Anggota DPRD Kota Depok Ikravani Hilman saat dialog budaya dengan para media mengatakan,”pemerintah kota Depok wajib memajukan seluruh kebudayaan yang ada di Kota Depok,saya melihat kebudayaan di Depok, dibuat hanya sebagai aksesoris,tidak sebuah sisi penting bagi kehidupan manusia,”ungkapnya.

“Kalau ada acara -acara, diselipkanlah itu, sebagai selingan-selingan budaya di acara kegiatan tersebut, itu hanya budaya tertentu saja, budaya yang lain tidak pernah dilakukan. Sudah terlihat dari kebijakannya penerapan budaya belum maximal. Bagaimana penerapan budaya tersebut,apa yang mesti dilakukan? Saya sudah sampaikan dengan Pemkot Depok, apalagi hal RPJMD nya , dia bilang sekarang kota Depok Green Smart City, artinya apa itu ? Depok kota ramah lingkungan.Budaya dan lingkungan OPD nya kan sudah beda ?

“Ditempat lain, saat saya kunjungan kerja ke Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi terkenal sebagai kota santet,anker dan lainnya,namun selama delapan tahun mereka sukses keluar dari slogan itu, sekarang Banyuwangi menjadi Kota Pariwisata 99,9 persen kunjungan wisatanya, Berapa besar anggaran pemerintah untuk memajukan wisatanya itu ? Hanya Rp.1,7 miliar/tahun. Kecil memang, tapi bisa memajukan Banyuwangi jadi begitu, “Wow, keren bang,” ujar Ikra.

Jika di Depok, OPD nya masih digabung bidang- bidang itu yaitu Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata.
Kalau di Banyuwangi OPD nya Budaya Pariwisata tersendiri sudah bang, yakni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (DISBUDPAR ) Kabupaten Banyuwangi namanya.

“Oleh Pimpinan Daerahnya, para OPD terkait seperti PUPR dikumpulkan untuk mencari tempat -tempat wisata yang menarik dan nyaman untuk tujuan wisata.OPD Kominfo berperan untuk menyampaikan promosi wisatanya, dibangun event-event setiap hari besar dan liburan, eventnya sampai ratusan kegiatan tiap tahun. Dari event -event yang dilakukan para wisatawan mulai banyak berkunjung.

“Nah, Pimpinan Daerahnya membuat peraturan, tidak boleh ada berdiri hotel berbintang tiga, alasannya lahan kosong yang ada diberdayakan, dengan membangun lahan kosong yang ada, menjadi Homestay, terbangunnya ribuan Homestay disana, terwujud pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat,” paparnya.

“Jadi wisata yang hampir 1000 persen itu bang, uangnya jatuh ke homestay -homestay setempat, makanya pendapatan perkapita mereka sebelumnya dari 23 juta sekarang 48 juta per tahun, Disbudpar Banyuwangi, Kabidnya ada empat, yaitu Kabid Kebudayaan, Kabid Produk Wisata, Kabid Pemasaran, Kabid Atraksi Ekonomi Kreatif,” tutur Ikra.

Bagi saya, Kota Depok kita pastikan kota Belimbing tahun ini, artinya banyak makanan buah belimbing, itukan bisa diolah dengan berbagai macam makanan, kosmetik, Depok menjadi pusat belimbing nasional, efeknyakan menjadi multi player semua akan berkembang, wisatawan meningkat,hotel berkembang.

“Yang kami perlukan bukan sekedar memperbanyak ide-ide kreatif, namun yang kami inginkan yaitu, ada tidak pembuktiannya ? ada tidak eksekusinya ? ,” jelas Ikravani Hilman sambil nyeruput kopinya.

(ish)