*Peresmian Desa Binaan Nambo, Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Jakarta III Perkuat Layanan Kesehatan Berbasis Komunitas*

Bogor KilasNusantara.id

Aula Lantai 2 Balai Desa Nambo Kamis, 23 April 2026

Sebagai bentuk nyata komitmen dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Jakarta III resmi mencanangkan Desa Nambo sebagai Desa Binaan pada Kamis, 23 April 2026, bertempat di Aula Lantai 2 Balai Desa Nambo.

Kegiatan ini menjadi tonggak penting kerja sama antara institusi pendidikan tinggi kesehatan dengan masyarakat dalam mewujudkan program pemberdayaan berkelanjutan. Selain itu, kegiatan ini juga merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pengabdian kepada masyarakat dan pengembangan kesehatan berbasis komunitas.

Desa Binaan, Wujud Pengabdian Berkelanjutan

Program Desa Binaan Nambo dirancang sebagai kolaborasi antara dunia pendidikan, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas hidup warga melalui pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif di bidang fisioterapi.

Melalui program ini, masyarakat diharapkan memperoleh edukasi kesehatan, peningkatan aktivitas fisik, serta pendampingan dalam pencegahan dan penanganan berbagai masalah kesehatan seperti hipertensi, risiko stroke, gangguan neuromuskuloskeletal, serta gangguan gerak fungsional lainnya.

Program tersebut juga sejalan dengan visi Prodi Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Jakarta III untuk menghasilkan lulusan fisioterapis profesional yang unggul dalam penguasaan IPTEK fisioterapi, khususnya bidang kesehatan otak, dan mampu bersaing secara global.

Dihadiri Tokoh Penting dan Pemangku Kepentingan

Acara peresmian dihadiri sejumlah tokoh dan stakeholder penting, di antaranya Ketua Jurusan Fisioterapi, Wakil Direktur I Bidang Akademik Poltekkes Kemenkes Jakarta III, perwakilan asesor LamPT-Kes, Danramil Klapanunggal, Kepala Puskesmas Klapanunggal, serta perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor.

Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menjadi bukti nyata dukungan lintas sektor terhadap pengembangan kesehatan masyarakat berbasis komunitas.

Dalam laporannya, Fisio Mohammad Ali, Ftr., M.Kes selaku Ketua Jurusan Fisioterapi menyampaikan bahwa Desa Nambo dipilih sebagai lokasi praktik Fisioterapi Komunitas berawal dari masukan mahasiswa yang mengetahui kondisi kesehatan masyarakat setempat. Tahun 2026 menjadi tahun ketiga pelaksanaan kegiatan Fisioterapi Komunitas di desa tersebut.

Berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan warga tahun ini, masalah kesehatan terbanyak yang ditemukan adalah hipertensi. Karena itu, kehadiran Desa Binaan Nambo diharapkan mampu menjadi wadah pelayanan fisioterapi komunitas yang berkesinambungan.

> “Program ini tidak hanya menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa, tetapi juga kontribusi nyata institusi dalam meningkatkan kesehatan masyarakat melalui pendekatan fisioterapi,” ujarnya.

Sinergi Lintas Sektor untuk Kesehatan Warga

Kepala Desa Nambo, Nanang, SE, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas penetapan Desa Nambo sebagai desa binaan dan berharap program tersebut membawa manfaat nyata bagi masyarakat.

Sementara itu, H. Solihin, SKM selaku Ketua Tim SDMK mewakili Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor menekankan pentingnya sinergi antara institusi pendidikan dan fasilitas pelayanan kesehatan dalam mendukung program promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

Ia berharap kolaborasi ini mampu membantu menurunkan permasalahan kesehatan masyarakat, khususnya penyakit tidak menular, gangguan gerak dan fungsi, serta meningkatkan kesadaran warga terhadap pentingnya aktivitas fisik dan pola hidup sehat.

Wakil Direktur I Poltekkes Kemenkes Jakarta III, Dr. Eviana Sumarti Tambunan, S.Kp., MKM, juga menegaskan komitmen institusi dalam mendukung keberlanjutan program Desa Binaan sebagai bagian dari pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Menurutnya, program ini tidak hanya berfokus pada pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi wadah implementasi ilmu pengetahuan dan inovasi berbasis kebutuhan masyarakat.

Prosesi Peresmian Berlangsung Khidmat

Sebagai puncak acara, dilakukan prosesi peresmian Desa Binaan Nambo yang ditandai dengan pemotongan pita secara simbolis oleh para pimpinan yang hadir sebagai tanda resmi dimulainya program.

Kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara oleh Ketua Jurusan Fisioterapi, Kepala Desa Nambo, perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, serta Wakil Direktur I Poltekkes Kemenkes Jakarta III sebagai bentuk komitmen bersama menjalankan program secara berkelanjutan.

Pelayanan Fisioterapi Gratis Diserbu Warga

Usai prosesi peresmian, rangkaian kegiatan berlanjut dengan pelayanan fisioterapi gratis bagi warga Desa Nambo yang digelar di Balai Desa lantai 1. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda yang paling diminati masyarakat.

Pelayanan dilakukan oleh mahasiswa Jurusan Fisioterapi dengan pendampingan langsung para dosen, sehingga masyarakat memperoleh layanan profesional sekaligus edukatif.

Terdapat 6 pos pemeriksaan yang melayani pemeriksaan umum, keseimbangan, koordinasi dan stabilitas, postur tubuh, otot dan sendi, aktivitas fungsional lansia, serta pemeriksaan gerak dan fungsi bagi ibu hamil dan anak.

Selain pemeriksaan, warga juga mendapatkan intervensi awal berupa terapi elektrofisika, terapi latihan, terapi manual, edukasi kesehatan, serta arahan *home program* sesuai kebutuhan masing-masing.

Antusiasme masyarakat sangat tinggi. Sebanyak **60 warga** hadir memenuhi kuota layanan yang telah disediakan. Keluhan terbanyak yang ditemukan meliputi nyeri bahu, nyeri pinggang, nyeri lutut, serta **low back pain** yang kerap mengganggu aktivitas sehari-hari.

*#Harapan ke Depan*

Melalui peresmian Desa Binaan Nambo ini, diharapkan tercipta masyarakat yang semakin sadar akan pentingnya kesehatan, aktif secara fisik, serta mampu melakukan pencegahan dini terhadap berbagai gangguan kesehatan.

Program ini juga diharapkan memberi manfaat luas, mulai dari peningkatan kompetensi mahasiswa dalam praktik berbasis masyarakat, mendukung dosen dalam pengabdian dan penerapan ilmu, hingga memperkuat kerja sama lintas sektor dalam pembangunan kesehatan.

Kegiatan ditutup dengan sesi dokumentasi bersama seluruh peserta. Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Jakarta III menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat melalui program-program inovatif dan berkelanjutan demi mencetak lulusan profesional sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia.

Sutarman