Proyek 7 Miliar Diduga Retak Parah Usai 3 Bulan Diresmikan,PPTK Dinkes Bengkulu Utara Bungkam,

BENGKULU UTARA, KilasNusantara.id – Sorotan tajam kembali mengarah pada pengelolaan proyek pembangunan kesehatan di Kabupaten Bengkulu Utara.

Kali ini, proyek rehabilitasi Puskesmas Air Bintunan di Kecamatan Giri Mulya yang menelan anggaran APBD tahun anggaran 2025 sebesar Rp7.002.436.027,06 menuai kritik keras.

Pasalnya, bangunan yang baru rampung dibangun dan diresmikan belum lama ini, kini kondisinya sudah memprihatinkan akibat keretakan yang terjadi di hampir seluruh sudut gedung.

Berdasarkan pantauan Tim awak media di lokasi pada (4/3/26), retakan terlihat jelas mulai dari dinding bagian depan kiri-kanan sisi belakang bangunan hingga Halaman parkir, Kerusakan tak hanya terjadi di lantai dasar, ruangan di lantai atas ruangan Kapus pun mengalami nasib serupa.

Padahal proyek yang dikerjakan kontraktor CV Bangun Mega Utama ini baru saja diselesaikan pada 12 Desember 2025 lalu dan diresmikan secara resmi pada 29 Januari 2026 dengan dihadiri sejumlah pejabat tinggi daerah.

Kondisi ini memicu kekhawatiran warga mengingat bangunan tersebut merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang menuntut standar keamanan dan kenyamanan tinggi. Ironisnya, investasi miliaran rupiah tersebut justru berisiko membahayakan pengguna hanya dalam waktu kurang dari tiga bulan pasca peresmian.

Fenomena ini bukan kali pertama terjadi. Masalah pengawasan proyek di lingkungan Dinas Kesehatan Bengkulu Utara seolah menjadi catatan kelam yang berulang.Masih terngiang di ingatan publik tahun 2024 silam Gedung Puskesmas Tanjung Agung Palik diduga dengan anggaran sekitar Rp6,3 miliar juga mengalami keretakan serius, Bahkan, proyek gedung laboratorium di lingkungan Dinkes sempat berhenti di tengah jalan akibat putus kontrak, sebelum akhirnya dilanjutkan kembali pada tahun 2025.

Menariknya, nama kontraktor yang mengerjakan Puskesmas Air Bintunan ini diduga sama dengan yang menangani proyek puskesmas bermasalah di Tanjung Agung Palik tahun lalu.

Tak hanya itu, pihak pelaksana yang sama dikabarkan hampir setiap tahun mendapatkan tender proyek puskesmas bernilai miliaran rupiah di wilayah ini, Dugaan kuat beredar, sejumlah bangunan puskesmas di kecamatan lain pun dikabarkan mengalami gejala kerusakan serupa.

Secara teknis, keretakan bangunan bisa disebabkan berbagai faktor, mulai dari kesalahan desain struktur, penggunaan material berkualitas rendah, kesalahan dalam pencampuran bahan konstruksi, pergerakan atau penurunan tanah, hingga pengaruh cuaca ekstrem.Kerusakan bisa bersifat sekadar lapisan luar saja, namun tak menutup kemungkinan menyangkut struktur utama yang mengancam keselamatan jiwa.

Sayangnya, hingga berita ini diterbitkan, kejelasan penyebab utama keretakan belum bisa diketahui secara pasti. Saat dikonfirmasi Tim awak media melalui pesan WhatsApp, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Bengkulu Utara hanya menjawab singkat” PPTK-nya titik”,tanpa mau merespons pertanyaan apakah proyek tersebut masih dalam masa pemeliharaan atau tidak.

Langkah selanjutnya mengarah pada PPTK (Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan) Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Utara, Namun sangat disayangkan, saat dimintai tanggapan oleh tim awak media terkait kasus ini, pihak yang bertanggung jawab justru memilih bungkam seribu bahasa, Tidak ada satu pun penjelasan yang disampaikan untuk menenangkan kekhawatiran publik.

Masyarakat pun kini menunggu langkah nyata pemerintah daerah. Apakah akan ada audit menyeluruh,evaluasi kinerja kontraktor, atau bahkan sanksi tegas bagi pihak yang lalai? Sebab, fasilitas kesehatan bukan sekadar bangunan beton dan batu, melainkan tempat yang diharapkan menjadi penopang keselamatan nyawa warga.

Pewarta : Red Kaperwil Provinsi Bengkulu dan Tim,

Penulis: Red Bengkulu,Editor: Red Kaperwil Provinsi Bengkulu,