Ragam  

Bantu Masyarakat Memahami Pengaruh Film dan Iklan Film, SLF Sosialisasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri

NIAS SELATAN, Kilasnusantara.id — Lembaga Sensor Film (LSF) Republik Indonesia menyelenggarakan Sosialisasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri bersama Universitas Nias Raya, dengan Tema “Memajukan Budaya, Menonton Sesuai Usia”. Berlangsung di Baga Resort Hotel Lantai 2, Jl. Lagundri Km.12 Desa Lagundri, Kecamatan Luahagundre Maniamolo, Kabupaten Nias Selatan Provinsi Sumatera Utara, Jumat (21/06/2024) pukul 09.00 sampai dengan selesai.

Tujuannya, Supaya para sineas film maker atau sivitas akademika yang memang konsen dibidang kebudayaan dan film bisa tersosialisasi Undang-undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman, melindungi masyarakat dari dampak negatif yang timbul dari peredaran dan pertunjukan film dan iklan film yang tidak sesuai dengan dasar, serta mengedukasi masyarakat untuk cerdas dengan sadar dalam menonton sehingga mampu memilah arah dan tujuan perfilman indonesia tersebut yang ditayangkan dengan memperhatikan penggolongan kriteria usia semua umur, baik tontonan di bioskop, televisi, maupun jaringan informatika. Karena, film memiliki peran strategis dalam peningkatan ketahanan budaya bangsa dan kesejahteraan masyarakat untuk memperkuat ketahanan nasional.

Lembaga Sensor Film (LSF) Republik Indonesia ini juga adalah Lembaga Negara Independen yang memiliki tugas melakukan penyensoran film dan iklan film sebelum diedarkan dan/atau dipertunjukan kepada khalayak umum. Terkait Pasal 61 Undang-undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman, mengamanatkan Lembaga Sensor Film (LSF) Republik Indonesia, untuk :

1. Memasyarakatkan penggolongan usia penonton film dan kriteria sensor film;
2. Membantu masyarakat agar dapat memilih dan menikmati pertunjukan film yang bermutu serta memahami pengaruh film dan iklan film;
3. Mensosialisasikan secara intensif pedoman dan kriteria sensor kepada pembuat dan pemilik film agar dapat menghasilkan film yang bermutu.

Berikut Susunan Acara Sosialisasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri di Provinsi Sumatera Utara :
1. Pembukaan Sosialisasi Budaya Sensor Mandiri, dipandu oleh MC Universitas Nias Raya :
* Menyanyikan Lagu Indonesia Raya, dibawakan oleh Dirigen (Universitas Nias Raya)
* Sambutan Rektor Universitas Nias Raya, oleh Dr. Martiman Suaizisiwa Sarumaha
* Sambutan dan Pembukaan oleh Wakil Ketua LSF RI, Dr. Ervan Ismail
* Penandatanganan MoU antara LSF RI dan Universitas Nias Raya
* Penyerahan Plakat.
2. Diskusi, Tanya jawab dan Kuis bersama Narasumber :
* Dasar, Penjelasan dan Pentingnya Budaya Sensor Mandiri, oleh Dr. Fetriman (Ketua Subkomisi Pemantauan LSF RI)
* Potensi Film dengan Kearifan Lokal di Era Digital, oleh Dr. Juang Solala Laiya, M.Sn (Dosen dan Budayawan).
3. Penutup :
* Pengisian Link Evaluasi
* Pengumuman-pengumuman
* Penyelesaian Administrasi.
4. Santap Siang Bersama.

Selanjutnya, “Pemateri pertama Dra. Rita Sri Hastuti sebagai Ketua Subkomisi Data Pelaporan dan Publikasi LSF RI, menekankan pentingnya penggolongan kriteria usia semua umur dalam menonton film. Dan sebelum film-film ditonton oleh masyarakat luas, pihaknya terlebih dahulu melakukan penyensoran film, beberapa diantaranya dengan memberi tanda penggolongan usia mulai dari usia 13 Tahun ke atas, 17 Tahun dan 21 Tahun. Melalui Sosialisasi ini, sehingga masyarakat dapat memilah dan menulis komponem yang sesuai dengan usianya, dan juga masyarakat terliterasi mengenai tontonan yang ada dan beredar,” terangnya.

Pemateri kedua, Dr. Juang Solala Laiya, M.Sn selaku Dosen dan Budayawan, memaparkan pengaruh film dalam budaya Nias Selatan sekaligus mengulas sejarah masa kolonial Belanda yang sering menggambarkan Nias secara negatif dalam film-film mereka. Namun, di balik itu, kolonial Belanda juga mengagumi karya orang-orang Nias seperti, Rumah Besar/Rumah Adat yang tahan gempa. Dianya juga berharap, agar masyarakat Nias dapat lebih selektif dalam menonton film dan memahami dampaknya terhadap budaya lokal,” tuturnya mengakhiri.

(Karyadin Gumano)